Jumat, 15 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Limbah Bonggol Jagung Dikembangkan Jamur Merang

26 Juni 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MANFATKAN LIMBAH: Mahasiswa Unigoro menyiapkan bonggol jagung akan difarmentasi.

MANFATKAN LIMBAH: Mahasiswa Unigoro menyiapkan bonggol jagung akan difarmentasi. (MUHAMMAD SUAEB/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Bonggol jagung selama ini banyak yang tidak melirik. Dianggap limbah tak berguna. Namun, sejumlah mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) ini memanfaatkan bonggol jagung menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Kreativitas tersebut mengantarkan Elika Febrianti dkk menarik perhatian Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dan mendanai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Menurut Elika, PKM wadah dibentuk Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memfasilitasi potensi mahasiswa untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi di perkuliahan kepada masyarakat luas.

Selain dirinya, kata Elika, kelompoknya, terdiri dari Febri Novitasari, Ellana Firdiyanti, dan Ilham MA. Tim mahasiswa ini akan mengangkat judul Optimalisasi Pemanfaatan Bonggol Jagung Untuk Budi Daya Jamur Merang Bagi Pemuda Karang Taruna Desa Tambakmerak, Kecamatan Kasiman.

Menurut dia, Desa Tambakmerak salah satu desa struktur perekonomiannya didominasi pertanian, perkebunan, dan peternakan. Termasuk bonggol jagung merupakan limbah pertanian yang melimpah.

”Tapi, limbah belum dimanfaatkan maksimal. Karena itu, kami melakukan optimalisasi memanfaatkan limbah hasil pertanian. Sehingga bisa meningkatkan kreativitas masyarakat desa  dengan hasil dapat digunakan sendiri maupun dipasarkan,” ujar mahasiswi semester tujuh fakultas ekonomi itu.

Pemuda Karang Taruna Desa Tambakmerak memanfaatkan bonggol jagung menjadi bahan bernilai ekonomis tinggi. Yaitu jamur merang. Namun, keterbatasan pengetahuan masyarakat dan kemajuan teknologi kurang memadai, menyebabkan proses budi daya jamur kurang maksimal.

Berdasar masalah itu, menurut Elika, kelompok mahasiswa berupaya akan memberikan pendampingan dan pelatihan. Baik melalui penyuluhan, praktek, dan demonstrasi meliputi persiapan bahan, formulasi medium, pembuatan medium pertumbuhan jamur, dan manajemen pemeliharaan.

”Untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat. Sehingga proses budi daya berjalan secara maksimal. Dan dapat mengurangi limbah hasil pertanian. Serta menjadikan bonggol jagung bernilai tinggi,” jelasnya.

(bj/msu/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia