Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Persaingan Cakades Pendatang Baru dan Petahan

Janjikan Perubahan vs Program Berkelanjutan

25 Juni 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Adu strategi antar calon kepala desa (cakades) merebut kursi nomor satu di desa cukup panas. Terutama cakades petahana dengan pendatang baru. Cakades memiliki waktu hari ini untuk berebut suara, sebelum pencoblosan serentak di 154 desa besok (26/6).

Masing-masing tim sukses mengunggulkan calonnya masing-masing dan berusaha melemahkan pihak lawan. Beberapa cakades petahana beralasan maju lagi karena dorongan dari warganya. Dan ingin melanjutkan program yang sifatnya berkelanjutan.

Sedangkan, cakades pendatang baru mengikuti pilkades serentak tahun ini, memiliki semangat tinggi untuk membuat perubahan di desanya. Karena mereka menilai pucuk pimpinan yang lama tak memiliki gebrakan untuk kemajuan desa.

“Sebagai calon (cakades) baru, kami ingin mengajak masyarakat untuk melakukan perubahan,” kata Misbakhul Munir, salah satu cakades pendatang baru di Desa Kliteh, Kecamatan Malo.

Dia menuturkan, kepala desa memiliki peran vital untuk menentukan kebijakan di tingkat desa. Termasuk tentang program kemajuan desa. Tanpa ada persetujuan kepala desa, tak mungkin kebijakan bisa berjalan.

Sehingga, dia tetap berkomitmen ikut bertarung merebut kursi kades. Termasuk mengklaim mendapat dukungan warga. “Kami tetap mengedepankan kepentingan desa, bukan kepentingan pribadi,” tegasnya.

Andri Setya Asih, salah satu cakades Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras memastikan, melawan petahana atau kelompok dari mantan kepala desa bukan hal yang mudah. Namun, dengan tekad kuat, dia optimistis bisa mendapatkan kepercayaan masyarakat di desanya.

Karena dia merupakan satu-satunya calon perempuan dari tiga cakades lainnya. Sehingga, dia ingin bersama warga untuk memajukan desanya. “Kami tawarkan perubahan, karena kami calon yang masih baru,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sementara itu, Budi Suprayitno, cakades petahana Desa Sukorejo, Kecamatan Kota. Dia menyatakan masih banyak program di desanya yang harus dilanjutkan. Karena jika beda penentu kebijakan, belum tentu program jangka panjang itu bisa terealisasi.

Melawan cakades pendatang baru, diakuinya bagian dari tantangan. Namun, dia mengklaim masih mendapatkan kepercayaan warganya melanjutkan roda pemerintahan. “Selagi masih ada kesempatan dan merasa mampu, ya ikut lagi,” ungkap dia.

Sedangkan bagi Edi Sampurno, cakades petahana Desa Campurrejo, Kecamatan Kota, selama 6 tahun periode sebelumnya, dinilai masih kurang untuk menyelesaikan pembangunan di desanya. Sehingga, dia membutuhkan waktu lagi selama 6 tahun ke depan melanjutkan program kerja.

Sebab, beberapa programnya jangka panjang, membutuhkan penentu kebijakan yang sama. Sebaliknya, jika penentu kebijakan nanti dipegang orang lain, dikhawatirkan tidak tuntas, dan merugikan masyarakat.

“Program kesinambungan itu bisa terealisasi kalau pemegang policy  (kebijakan) orangnya sama,” tegasnya.

Terkait adanya cakades baru, kata dia, sebuah tantangan, karena sesuai aturannya juga memiliki kesempatan yang sama. Selain itu, sistem demokrasi di negara ini juga mengaturnya. Sehingga, tidak mempersoalkan cakades baru.

Namun, dia optimistis berhasil merebut kembali kursi kepala desa, karena tim dan relawan di desanya sudah sangat kuat dan berharap ada penuntasan program yang sudah berjalan baik di periode sebelumnya.

(bj/msu/rij/yan/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia