Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Belum Putuskan Opsi Gelombang Dua

23 Juni 2019, 12: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN gelombang dua belum dipastikan. Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Bojonegoro – Tuban, harus melakukan kajian terlebih dulu sebelum memutuskan kebijakan tersebut.

‘’Kita akan kaji dulu. Setelah itu baru kita ambil keputusan, apakah membuka gelombang kedua atau tidak,’’ tutur Kepala Cabdin Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Bojonegoro – Tuban, Adi Prayitno, kemarin (22/6).

Dia menjelaskan, jumlah lulusan SMP di Bojonegoro sekitar 17 ribu siswa. Sedangkan kebutuhan pagu SMAN dan SMKN hanya 11 ribuan siswa. Jika dikalkulasi, maka ada selisih 6 ribuan siswa. Namun, jumlah pagu sejumlah SMAN dan SMKN ternyata belum terpenuhi. ‘’Ini yang akan kita kaji. Apakah mereka tidak sekolah atau mereka sekolah di swasta,’’ jelasnya.

Menurut Adi, pihaknya bakal turun ke lapangan untuk mengetahui hal itu. Jika sudah sekolah di swasta, maka pihaknya tidak akan lagi membuka gelombang dua. ‘’Tapi kalau mereka belum sekolah, bisa dibuat opsi gelombang dua PPDB,’’ jelasnya.

Menurut dia, ada beberapa hal yang membuat siswa tidak sekolah hingga saat ini. Di antaranya, salah dalam memilih sekolah saat PPDB online. Contohnya, rumah siswa di pinggiran, namun memilih sekolah di kota. Akibatnya, secara otomatis tersingkir karena PPDB berdasarkan zona atau kedekatan rumah. ‘’Yang seperti ini harus didorong untuk sekolah,’’ tuturnya.

Hasil PPDB online sudah diumumkan kemarin. Siswa bisa melihat pengumuman sekolah offline di sekolah atau online di website PPDB.

Dari hasil pengumuman itu, SMAN dan SMKN masih kekurangan 1.484 siswa. Yakni 540 siswa SMAN dan 944 siswa SMKN.

Menurut Adi, pelaksanaan PPDB di Bojonegoro sangat kondusif. Berbeda dengan daerah lain yang orang tua muridnya banyak melakukan protes ke cabdin setempat. ‘’Alhamdulillah Bojonegoro tidak sampai ada protes. Banyak orang tua atau wali murid yang paham aturan PPDB,’’ tutur pria asal Nganjuk itu.

(bj/zim/yan/ai/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia