Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Puluhan Warga Tolak Pengukur Lahan Kilang

23 Juni 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TOLAK PENGUKURAN: Warga yang berusaha menghalangi tim BPN yang hendak mengukur lahan untuk kilang GRR kemarin (22/6).

TOLAK PENGUKURAN: Warga yang berusaha menghalangi tim BPN yang hendak mengukur lahan untuk kilang GRR kemarin (22/6). (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TUBAN - Pengukuran lahan kilang Grass Root Refinery (GRR) di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu kemarin (22/6) diwarnai aksi penolakan massa. Sekitar 40 warga desa setempat membentangkan poster yang meminta pengukuran lahan di desanya dihentikan dengan alasan masih bersengketa.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 09.30 itu dijaga anggota Polsek Jenu. Meski demo berjalan damai, tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Pertamina Kilang GRR menghentikan sementara pengukuran lahan hingga waktu yang belum ditentukan.
Karni, salah satu warga yang menolak pengukuran mengatakan, aksi tersebut merupakan aspirasi masyarakat yang bersikukuh masih terjadi sengketa lahan untuk kilang. Karena itu, dia menyayangkan pembangunan kilang tetap dilanjutkan ketika PTUN membatalkan penetapan lokasi (penlok). ‘’Kami protes pengukuran. Penlok sudah dibatalkan, kenapa BPN masih ngukuri (mengukur) tanah?'' tegas tokoh masyarakat itu.

Karni juga menyayangkan arogansi tim pengukuran lahan. Sebab, sejak hari pertama pengukuran, tim yang ditunjuk Pertamina tak meminta izin kepada perangkat desa setempat.

Dia juga memprotes tidak jelasnya harga lahan hingga pekan pertama pengukuran. ''Kami menolak, tapi mbok jangan dicekel kayak (ditangkap seperti, Red) adik saya Mashuri,'' tegasnya.
Triono, koordinator PT Surveyor Indonesia, rekanan pembangunan kilang mengklaim pengukuran lahan sudah mendapat persetujuan dari pemilik lahan yang sudah sepakat melepas tanahnya. Terkait aksi protes, dia memerkirakan hanya dilakukan sekitar 20 orang saja. ''Kami memahami perbedaan sikap tersebut sebagai sebuah dinamika yang biasa terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan,'' kata dia.
Pria kelahiran Solo ini juga meminta protes warga tersebut tidak dibesar-besarkan. Dan, memandang perbedaan pendapat adalah hal yang biasa terjadi. Apalagi di-blow up dan diviralkan di media. ''Kami sangat menghargai jika rekan-rekan media ikut menjaga situasi tetap kondusif,'' ujar dia.

(bj/yud/ds/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia