Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Lahan Mengering, Petani Panen Dini

Empat Desa Ajukan Bantuan Air Bersih

23 Juni 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

HASIL TAK MAKSIMAL: Petani di Desa Jatirejo, Kecamatan Tikung kemarin (22/6) terpaksa memanen tanaman padi di sawah yang mengering karena kesulitan mendapatkan pengairan.

HASIL TAK MAKSIMAL: Petani di Desa Jatirejo, Kecamatan Tikung kemarin (22/6) terpaksa memanen tanaman padi di sawah yang mengering karena kesulitan mendapatkan pengairan. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

KOTA - Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau mulai awal bulan depan. Sejumlah desa yang wilayahnya kekeringan, mengajukan bantuan air bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan.

‘’Untuk sementara yang sudah mengajukan ada empat desa di dua kecamatan,’’ tutur Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan, Muslimin, kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Empat desa itu, Sambangan dan Bulumargi di Kecamatan Babat serta  Desa Sumberagung dan Medalem, Kecamatan Modo.

Droping air bersih 22 ribu liter sudah disalurkan ke tiga desa. ‘’Untuk Desa Medalem belum kita droping. Kita masih menunggu konfirmasi dari pihak terkait,’’ imbuhnya.

Muslimin mengatakan, pihaknya tetap melakukan survei ke lokasi sebelum melakukan droping. Menurut dia musim kemarau saat ini lebih cepat dibanding prakiraan dari BMKG. ‘’Seharusnya berdasarkan prakiraan, kemarau mulai terjadi sejak bulan depan hingga puncaknya Oktober nanti. Tapi ini lebih cepat,’’ katanya.

Dia menambahkan, pihaknya sudah memetakan desa/kecamatan yang berpotensi terjadi kekeringan. Diprediksi ada belasan desa yang berpotensi mengalami kekeringan.

‘’Dari data sebelumnya ada 16 kecamatan yang berpotensi kekeringan,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kabid Sarana Prasarana Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Hartiwi Sisri Utami, menuturkan, pihaknya masih menginventarisasi data di lapangan. Sejumlah petani melaporkan lahannya kering dan benih tidak dapat tumbuh. Jumlahnya puluhan hektare.

‘’Pengecekan di lapangan untuk memastikan tingkat kerusakannya bagaimana," ujarnya.

Menurut dia, bisa saja petani kena puso. Apabila, padinya benar-benar rusak. Jika kerusakannya sedang dan tidak sampai 75 persen, maka klaim asuransi tidak bisa dicairkan.

Tuwi Prayogo, petani asal Dusun Karangpilang, Desa Jatirejo, Tikung, mengaku  merugi akibat minimnya air. Padi berusia 72 hari terpaksa dipanen karena kondisi lahannya mengering. Waduk Joto sudah menurun debitnya. Jika dibiarkan, maka dikhawatirkan padinya semakin rusak.

Dia biasanya sekali panen pada lahan seperempat hektare minimal mendapatkan 18 sak. Sekarang, turun drastis menjadi 3 sak. "Untuk beli bibit saja kurang, apalagi biaya perawatan dan pupuk," ujarnya.

Sekretaris Dinas PU SDA, M Jufri, menuturkan, kondisi waduk dan embung memang berkurang karena tidak ada hujan. Dia berusaha berkoordinasi dengan seluruh UPT pengairan agar kebutuhan air masih terpenuhi. "Tetap diusahakan selama cadangan air masih ada,’’ tuturnya. (ind/rka/yan)

(bj/rka/ind/jar/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia