Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
DPU SDA Janji Tertibkan Pompa Air

Pemerataan Air Belum Terkontrol

22 Juni 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TERANCAM: Seorang petani di Desa Samberan, Kecamatan Kanor, sawahnya retak-retak. Tanaman padi pun kering. Beragam pompa di kawasan hulu menyedot air dari saluran Waduk Pacal.

TERANCAM: Seorang petani di Desa Samberan, Kecamatan Kanor, sawahnya retak-retak. Tanaman padi pun kering. Beragam pompa di kawasan hulu menyedot air dari saluran Waduk Pacal. (M. NURCHOLISH, MUHAMMAD SUAEB/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Kekeringan lahan pertanian di daerah irigasi Waduk Pacal ternyata cukup besar, yakni 16.624 hektare (ha). Luasan itu tersebar di enam kecamatan. Ancaman gagal panen cukup terbuka, jika air tak kunjung tiba.

Petani krisis air terutama yang memiliki areal tanaman padi di kawasan hilir. Sebab, air Waduk Pacal belum sampai di hilir, sudah disedot hampir 550 mesin pompa. Tentu, harus dicarikan solusi jangka panjang, agar tak terulang tahun depan.

Pemerataan air diperlukan. Sebab, pemicu kekeringan itu karena manajemen penggunaan air belum terkontrol. Juga, tampungan air waduk di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, itu terus menurun.

Sehingga petani di wilayah hulu tempat memompa air, sedangkan debit air di wilayah hilir mengecil. Imbasnya aliran air tak merata. “Kami akan terus patroli gabungan menertibkan pompa tidak berizin,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Bojonegoro Edi Susanto kemarin (21/6).

Menurut dia, antarpetani tidak menaati jadwal aliran air yang sudah ditetapkan. Selain itu, petani memilih jalan pintas dengan menyedot air dengan mesin pompa. Ragam mesin pompa dengan diameter antara 6 dim hingga 10 dim.

Menurut dia, sesuai hasil pertemuan musyawarah pembagian air dari Waduk Pacal menyebutkan, sisa air waduk yang bisa dialirkan ke irigasi tinggal 8 juta kubik. Jika dibuka dengan debit 5 kubik per detik, tentu akan bertahan sekitar 16 hari.

Lalu, Waduk Pacal dibuka mulai 13 sampai 29 Juni dengan debit 5 kubik per detik. Dengan rincian alokasi pembagian air irigasi pacal kiri mendapat giliran 16-29 Juni debit 900 liter per detik. Arealnya meliputi Kecamatan Sukosewu dan Kapas.

Kemudian di jalur irigasi pacal kanan, bagian paling hilir mendapatkan giliran 14-16 Juni. Meliputi Desa Drajad dan Banjaranyar, Kecamatan Baureno; Desa Pohwates, Kecamatan Kepohbaru; dan Desa Teleng, Kecamatan Sumberrejo.

Jadwal untuk aliran irigasi pacal kanan mulai 16 sampai 23 Juni, meliputi Kecamatan Balen dan Sumberrejo. Sedangkan, irigasi pacal mekuris mulai 23-29 Juni 2019 meliputi Kecamatan Sumberrejo. “Kami berharap jadwal ini dipatuhi,” tegas Edi, sapaannya.

Sementara itu, kalangan akademisi menilai persoalan kekeringan ini harus dijadikan pelajaran semua pihak. Karena kejadian ini bukan kali pertama. Sebaliknya, terjadi hampir setiap tahun.

Akar masalah kekeringan yang terjadi ini karena musim tanam (MT) yang dilakukan petani tidak sesuai dengan kelander masa tanam. Seharusnya, instansi terkait membuat kalender MT sesuai dengan hasil prediksi cuaca atau ketersediaan air di waduk.

“Ramalan cuaca dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) harus disosialisasikan ke petani secara intens. Sehingga petani tidak berisiko gagal, karena kekeringan,” kata Dekan Fakultas Pertanian Bojonegoro Darsan. (msu/rij)

(bj/msu/rij/yan/cho/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia