Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Ada yang Pilih Lepaskan SMAN

21 Juni 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

KOTA – Sistem zonasi membuat sebagian lulusan SMP pinggiran bernilai ujian nasional (unas) tinggi merasa tidak bisa masuk ke sekolah kota.

Shevanka misalnya. Dia memiliki nilai unas 338. Karena rumahnya di luar Kecamatan Lamongan, maka dia hanya bisa mendaftar di SMAN wilayah kecamatannya. Posisinya pun aman, peringkat ke-14.

Namun, SMAN pinggiran itu bukan impiannya. Shevanka juga mencoba peruntungan dengan mendaftar pada lembaga pendidikan lain yang tidak menerapkan zonasi dan berada di Kecamatan Lamongan. Dia juga dinyatakan diterima setelah tes.

“Saya tidak melakukan daftar ulang (di SMAN), karena diterima di lembaga lain di luar SMA yang menerapkan zonasi,” ujarnya.

Namun, ada juga lulusan SMP bernilai unas baik yang memilih SMAN yang radiusnya terdekat. Seperti Ainur Rhomah, alumni SMPN 1 Sekaran. Peraih nilai unas matematika 97,5; bahasa Inggris 82 itu ketika dikonfirmasi memilih mendaftar di SMAN 1 Sekaran. Alasannya, lembaga tersebut sangat dekat dengan rumahnya. Orang tuanya juga sangat mendukung langkahnya. “Meski sekolahnya di kecamatan, tapi kualitas pembelajarannya tidak kalah,” ujarnya.

Karena radius jarak sekolah dan rumahnya hanya 488 meter, dia tidak menjatuhkan pilihan kedua ke lembaga lain. Jika akhirnya tidak diterima di SMA negeri, maka dia akan belajar di pondok pesantren. Karena itu, dia mengkosongkan pilihan keduanya.

Calon peserta lainnya Adam Arya dari SMPN 1 Pucuk juga memilih satu lembaga, SMAN 1 Sukodadi. Dia cukup optimistis karena jarak rumahnya hanya 65 meter dan nilai unasnya tinggi, 368.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi wilayah Lamongan Sri Yuliarsih, mengklaim, sistem zonasi di Lamongan berjalan aman. Meski ada penangguhan tapi tidak berdampak serius pada calon peserta. Terkait informasi pelebaran zona dan penambahan rombongan belajar (rombel), tidak berlaku di Lamongan. Penerapan sistem zonasi untuk pemerataan mutu pendidikan.

Sementara itu, seorang teknisi IT ITS di Lamongan mengaku pendaftaran hari terakhir masih ada sejumlah aduan. Salah satunya terkait kesalahan penitikan saat pengambilan personal identification numbers (PIN). Banyak orang tua merasa dirugikan karena lokasinya terlalu jauh. Sebagian mengaku saat pengambilan PIN tidak didampingi orang tua. Sehingga salah saat menentukan titik koordinat. Padahal mereka sudah melakukn pendaftaran. Sehingga tidak bisa dicabut maupun diganti karena sudah final.

(bj/rka/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia