Selasa, 23 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
DPU SDA Mengaku Tak Punya Kewenangan Mengatur

Sawah Mengering, Petani Gagal Panen

19 Juni 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SEDIH: Seorang petani di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, melintas di sawah yang kering. Tanaman padi pun gagal panen.

SEDIH: Seorang petani di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, melintas di sawah yang kering. Tanaman padi pun gagal panen. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Sebagian petani di Bojonegoro resah. Khususnya petani yang jauh dari aliran Sungai Bengawan Solo. Sebab, tanaman padi mereka saat ini mengalami kekeringan. Kondisi ini terjadi lebih dari sebulan tak turun hujan. Dan mengakibatkan lahan pertanian mulai retak.

Jika tak segera mendapatkan air, tanaman padi akan kering. Petani terancam gagal panen. Instansi terkait diminta segera mengatasi persoalan pertanian ini. “Jika tak segera dapat air, tanaman (padi) bisa mati,” kata Syafi’i, salah satu petani di Kecamatan Balen.

Dia menambahkan, tanaman padi rata-rata sudah berumur lebih sebulan. Sehingga sudah memasuki masa vegetatif (pembuahan), umur tanaman membutuhkan air yang cukup agar menghasilkan padi maksimal.

Namun, saat ini para petani mulai kesulitan air. Waduk dan embung yang dibuat pemerintah sebelumnya sudah mengering. Sehingga, saat ini mayoritas petani resah, karena belum ada tindakan dari instansi terkait.

“Petani itu butuh solusi, bukan hanya dikasih janji-janji saja,” ketusnya.

Hal senada diungkapkan Rohim, salah satu petani di Kecamatan Kapas. Saat ini mayoritas petani di kecamatan setempat resah. Karena sawah mereka sejak Mei lalu tak mendapatkan aliran air.

Kondisi tanahnya mulai mengeras dan retak. Sehingga, pertumbuhan padi lambat. Jika tak kunjung ada aliran air, dikhawatirkan tanaman kering dan gagal panen. “Petani sudah telanjur mengeluarkan biaya banyak, mulai tanam hingga pemupukan,” ujarnya.

Dia mengatakan, instansi terkait segera mencari solusi. Karena petani selama ini menggantungkan ekonominya dari hasil panen tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sumber Daya Air (SDA) Bojonegoro Edi Susanto mengatakan, tidak mengantongi data pertanian mengalami kekeringan. Sebaliknya, dia hanya memiliki kewenangan fasilitas pengajuan air Waduk Pacal ke Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS BS).

Terkait pembangunan embung, kata dia, untuk pengelolaannya menjadi kewenangan desa setempat karena dibangun di lahan aset desa. “Untuk data ketersediaan air Waduk Pacal, itu kewenangan BBWS BS,” katanya.

Dia menambahkan, total data embung telah dibangun DPU SDA saat ini ada 510 titik. Pembangunan itu di lahan milik desa dan aliran Solo Valley. Karena tak semua embung itu memiliki sumber mata air, namun hanya penampung air.

Tentu, ketika tak ada hujan, airnya akan ikut menyusut. Apalagi seperti saat ini sekitar lebih dari sebulan tak turun hujan. “Untuk embung itu menjadi kewenangan desa, jadi kami tak bisa memantau ketersediaan air,” imbuh Kepala Bidang (Kabid) Air Baku Irigasi DPU SDA Bojonegoro Iwan Kristian.

(bj/msu/rij/yan/cho/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia