Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Tinggal Jalur Online

14 Juni 2019, 13: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

CARI SEKOLAH NEGERI: Dua pendaftar membawa berkas yang diperlukan untuk PPDB.

CARI SEKOLAH NEGERI: Dua pendaftar membawa berkas yang diperlukan untuk PPDB. (RIKA RATMAWATI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

KOTA – Kesempatan calon siswa SMA/SMK negeri untuk mengikuti penerimaan peserta didik baru (PPDB) kini hanya tinggal jalur online. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Wilayah Lamongan, Sri Yuliarsih, menuturkan, pendaftaran jalur offline ditutup kemarin (13/6).

Pendaftaran jalur offline itu diperuntukkan 5 persen bagi mereka yang berprestasi, 5 persen perpindahan orang tua, dan 20 persen jalur mitra warga atau keluarga tidak mampu.

Yuli mengaku belum menerima laporan rekap sementara. Alasannya, pihaknya harus melakukan visitasi ke rumah untuk jalur mitra warga.

Selain itu, verifikasi dan validasi dilaksanakan mulai hari ini dan besok (15/6). Hasilnya diumumkan bersamaan dengan dibukanya pendaftaran jalur online (17/6).

Terkait pengambil PIN, Yuli mengatakan, jumlahnya ada kemungkinan lebih besar dari kebutuhan sekolah. Alasannya, PIN bisa digunakan di seluruh lembaga di Jatim. Selain itu, ada kemungkinan mereka yang mudik ke Lamongan mengambil PIN dan mendaftar di lembaga luar kota.

Dikonfirmasi terpisaH, Kepala SMAN 2 Lamongan, Muki, menuturkan, jumlah calon peserta yang mengambil PIN hingga kemarin terdata 626 anak. Jumlah tersebut bisa berubah lagi karena pengambilan masih ada jeda satu minggu. Sementara pendaftaran jalur offline masih belum bisa disebutkan jumlahnya. “Pengumuman masih tanggal 17, jadi menunggu,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat ke Lamongan, mengatakan, PPDB tahun ini menggunakan Permendikbud 51 tahun 2018. Sistemnya zonasi. Aturan itu menyebutkan, sepuluh persen bisa diisi calon peserta dari luar zona. Kemudian, lima persen jalur prestasi akademik dan nonakademik, serta lima persen jalur perpindahan orang tua.

Mereka yang berada di luar zona, bisa memaksimalkan kuota tersebut. Selain itu, lanjut Khofifah, khusus Pemprov Jatim, memberikan kesempatan 20 persen bagi calon peserta yang memiliki nilai ujian nasional tertinggi (unas). Kans ini diberikan bagi mereka agar mendapatkan pendidikan yang tepat sesuai prestasinya.

Dia menyanggah bila penerapan zona tidak memberikan kesempatan pada siswa berprestasi. Sebab kuota yang diberikan sudah sesuai. Tentunya dengan banyak pertimbangan untuk pemerataan pendidikan di Jatim. “Pemetaan ini sudah disesuaikan dengan kajian mutu pendidikan Jatim,” ujarnya.

Sisanya, 70 persen terdiri atas 20 persen kuota mitra warga atau anak buruh dan 50 persen menggunakan zonasi. Dia mengklaim, sistem yang diterapkan saat ini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Namun, tahun ini lebih canggih. Alasannya, setiap teknisi sekolah sudah dilatih. Sehingga calon peserta yang mengambil personal identification number (PIN) sudah bisa dihitung radius jaraknya melalui GPS.

Selain itu, mereka akan terpetakan sesuai dengan zona masing-masing. “Ini akan menepis wilayah abu-abu atau semacam irisan,” tuturnya.

(bj/rka/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia