Kamis, 23 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Petakan Kebutuhan Cold Storage

14 Juni 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PERLU COLD STORAGE: Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa (dua dari kanan) mendengarkan keluhan tentang harga ikan yang murah di Pasar Ikan Lamongan kemarin (13/6).

PERLU COLD STORAGE: Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa (dua dari kanan) mendengarkan keluhan tentang harga ikan yang murah di Pasar Ikan Lamongan kemarin (13/6). (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

KOTA - Turunnya harga ikan bandeng dikeluhkan sebagian besar petambak Lamongan. Sebab, harga bandeng saat ini maksimal hanya Rp 5 ribu per kilogram (kg). Padahal, harga bandeng  normalnya sekitar Rp 12 ribu per kg.

“Turunnya harga (bandeng) ini karena momennya panen raya, sementara kebutuhan pasar tidak seimbang,” klaim Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat sidak di Pasar Ikan Lamongan kemarin (13/6).

Dia mengibaratkan turunnya harga bandeng itu seperti arus air dari hulu ke hilir. Produksi yang melimpah tidak diimbangi dengan penyerapan yang sesuai. Akibatnya, barang menumpuk dan harganya kemudian anjlok.

Apalagi, tidak semua bandeng yang dipanen berukuran besar. Sebagian bandeng itu berukuran kecil. Ketika petambak ditanya, lanjut dia, alasannya memasuki musim tanam padi. Jawaban itu menunjukkan mereka sudah memahami pola tanam dan panen. Namun, tidak melihat kondisi pasar yang belum stabil. Banyak pabrik belum buka dan resto belum beroperasi.

Menurut Khofifah, salah satu solusinya dengan membuka pasar ekspor. Dia mengklaim sudah melakukan pembicaraan dengan beberapa industri. Untuk mengantisipasi agar ikan tetap memiliki kualitas baik, maka dibutuhkan cold storage. Khofifah mengaku masih memetakan kebutuhannya. Versi dia, ada dua kabupaten penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Yakni, Lamongan dan Probolinggo.

“Masih dipetakan, kita lihat kondisi lapangan dulu,” ujarnya.

Winarti, salah satu petambak, mengatakan, kondisi ikan tidak sama besar. Namun, ikan tersebut diyakini tidak bisa besar meski dibiarkan hingga dua bulan ke depan. Alasannya, kondisi air tambak sudah berkurang.

Terkait pola tanam, menurut dia, sudah dipetakan. Kondisi saat ini, air untuk pertanian sulit. Jika tidak segera tanam sekarang, maka petani tidak bisa melakukan panen padi sama sekali. “Setelah panen padi, lahan petani akan dibiarkan tidak berproduksi karena masuk kemarau,” katanya.

(bj/rka/yan/jar/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia