Rabu, 19 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Wajinah, Lansia Miskin Sebatangkara Berangkat

Dua Tahun Menabung dari Jasa Memijat

Oleh: YUDHA SATRIA ADITAMA

24 Mei 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

INSPIRATIF: Wajinah, tukang pijat yang baru pulang dari Tanah Suci setelah menjalankan ibadah umrah.

INSPIRATIF: Wajinah, tukang pijat yang baru pulang dari Tanah Suci setelah menjalankan ibadah umrah. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

WAJINAH, 71, membuktikan tidak hanya orang mampu saja yang bisa menjalankan ibadah umrah ke Makkah. Lansia miskin dan hidup sebatangkara seperti dirinya pun bisa. Modal utamanya adalah niat yang sungguh-sungguh.

alunan ayat suci Alquran terdengar nyaring begitu mendekat rumah nomor 15 di Gang Watu Tumpeng, Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang. Sumber suara tersebut dari rumah bercat kuning yang berjarak selemparan batu dari jalan Daendels, Tuban-Palang. Di dalam rumah berukuran 6 x 10 meter tersebut, Wajinah tengah duduk di kursi ruang tamu dengan Alquran kecil di tangannya.

Saat tak memijat, Wajinah menghabiskan waktunya untuk membaca Alquran. Ketika wartawan koran ini bertandang ke rumahnya yang sederhana, dia langsung menghentikan aktivitasnya. Senyum ramahnya menyambut.

Wajinah beribadah umrah sejak Kamis (2/5) dan baru pulang dari Tanah Suci, Sabtu 18/5). Karena masih lelah, sepulang umrah, Wajinah memilih beristirahat tidak menerima layanan pijat. ‘’Saya libur dulu,’’ kata dia memulai obrolan dengan wartawan koran ini yang dikira hendak pijat.

Untuk mewawancarai lansia ini, harus mengeraskan suara atau mendekat. Maklum, indera pendengaran nenek empat anak ini termakan usia. Di rumah yang dihuni, belasan tahun Wajinah tinggal sebatangkara. Empat anaknya tak pernah mengunjunginya. Untuk bertahan hidup, dia banting tulang sebagai tukang pijat panggilan. Karena tak lagi bisa berjalan normal setelah kecelakaan tiga bulan lalu, dia hanya menerima jasa pijat di rumahnya.

Wajinah tak pernah menyangka di sisa hidupnya bisa berangkat ke Makkah. Apalagi, pendapatannya sebagai tukang pijat tak menentu.

Sekali memijat dengan durasi sekitar 45 – 60 menit, Wajinah tak pernah mematok tarif. ‘’Seikhlasnya,’’ ungkapnya. Nenek yang sebagian besar giginya sudah tanggal ini tak hanya menerima jasa pijat bayi, namun juga orang dewasa. Baik pijat capek maupun terkilir.

Keinginan Wajinah untuk berangkat ke Tanah Suci muncul sejak 2005. Untuk memenuhi harapannya, dia menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai tukang pijat. Sebenarnya, keinginannya ke Tanah Suci adalah untuk menjalankan ibadah haji. Namun, karena usianya sudah senja dan tak mungkin masuk waiting list, Wajinah cukup puas dengan umrah. ‘’Saya ingin ke rumah Allah sejak dulu,’’ ujar dia.

Menabung untuk ibadah ke Makkah tak semudah membalik telapak tangan. Wajinah beberapa kali dihadapkan pada kebutuhan mendadak yang terpaksa menguras tabungannya. Saat tabungannya sudah mencukupi, pada 2014 dia harus membangun dapur dan kamar tidurnya yang nyaris roboh karena lapuk termakan usia. Selanjutnya pada 2015, uang tabungannya kembali dikuras untuk membongkar ruang tamu dan ruang makan.

Setahun kemudian, musala samping rumah Wajinah butuh renovasi. Lagi-lagi, dia harus menahan sejenak impian umrahnya karena tak tega melihat pembangunan musala yang membutuhkan dana pembangunan cukup besar.

Tak sampai disitu, pada 2017 salah satu cucunya mengeluh ingin menikah dan tak punya modal. Wajinah pun akhirnya menguras tabungannya untuk membantu salah satu cucunya tersebut. ‘’Jadi mulai menabung lagi dua tahun terakhir ini,’’ tuturnya.

Selama ada niat, selalu ada jalan. Wajinah meyakini itu. Dua tahun menabung dari hasil memijat, tabungannya terkumpul sekitar Rp 30 juta. Uang itulah yang didaftarkan mengikuti umrah selama 16 hari. ‘’Kalau kita niat pergi ke Tanah Suci, Insya Allah gusti Allah mempermudah,’’ kata dia menahan air matanya.(*/ds)

(bj/yud/ds/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia