Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Irfan Alias Ateng, Lima Tahun Jadi Joki Tong

Mantan Pebalap Liar, Jatuh saat Beraksi Tak Terhitung

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

19 Mei 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BERNYALI: Ateng bahagia bisa menghibur banyak orang ketika beraksi di dalam tong setan.

BERNYALI: Ateng bahagia bisa menghibur banyak orang ketika beraksi di dalam tong setan. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

RASA bahagia dirasakan Irfan alias Ateng ketika bisa menghibur banyak orang di arena tong setan. Sebelum jadi joki tong setan, pemuda bertato itu joki balap liar. Pertaruhkan nyawa di jalan.

temaram sore di lapangan Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu, tak seperti biasanya. Lapangan itu dipakai untuk pasar malam sejak awal Ramadan lalu. Satu per satu lampu dinyalakan karena matahari sudah mulai tenggelam.

Beberapa orang terlihat mempersiapkan dagangannya dan beberapa lainnya sedang asyik mengobrol. Mereka yang asyik mengobrol itu operator wahana-wahana permainan.

Salah satu wahana yang menarik yakni tong setan. Ada juga menyebut tong edan. Karena hiburan menonton atraksi tong setan sepertinya kian terkikis di masa sekarang. Saat itu, seorang pemuda bertelanjang dada duduk santai memainkan gawainya di dekat wahana tong edan. Ternyata ia merupakan joki motor tong edan. Tubuhnya penuh dengan tato dan kulitnya sedikit gelap.

Irfan alias Ateng nama pemuda itu. Usianya bisa dibilang masih muda, belum ada setengah abad. Ia menjalani profesi joki tong edan sejak lima tahun silam. Jawa Pos Radar Bojonegoro menyempatkan waktu untuk mengobrol dengan Ateng karena pasar malam itu baru buka seusai Salat Tarawih. Namun, baru mengobrol sebentar, Ateng pamit untuk mandi terlebih dahulu.

Usai mandi, ia pun sudah mengenakan baju dinasnya yakni kaus jersey balap berwarna dasar abu-abu. Lalu bawahannya ia pakai celana jins biru yang belel. Ateng mengaku sebelum menjadi joki tong setan, ia mantan joki balap liar.

Menurutnya, joki balap liar kurang menguntungkan, karena risikonya besar, namun hasilnya kurang memuaskan. Hanya mengedepankan ego anak muda saja. “Kalau balap liar, musuhnya polisi, taruhannya nyawa. Kalau joki tong setan kan lebih jelas penghasilannya dan tetap menantang sekaligus berisiko,” ungkap dia.

Pemuda asal Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, itu bergabung di grup Berkah Jaya–Rembang Bangkit penuh dengan suka cita. Karena passion-nya di dunia balap masih tersalurkan. Beratraksi di tong edan bisa menghibur banyak orang. Sehingga, menjalani kerja seperti layaknya hobi sehari-hari. “Entah kenapa saya suka sekali menghibur banyak orang,” katanya.

Ateng mengatakan berlatih selama dua bulan. Tapi dalam jangka waktu dua tahun. Karena ia berlatih ketika grup pasar malam itu singgah di Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, tiap Agustus. Menurutnya, jadi joki tong edan harus punya nyali yang tinggi. Kalau hanya sekadar pengin, menurut Ateng sangat berisiko.

“Kalau enggak punya nyali mending enggak usah. Beberapa teman saya yang tertarik pasti saya tantang keseriusannya. Kalau hanya coba-coba saja mending enggak usah sekalian,” jelasnya.

Karena motor yang digunakan atraksi itu tidak ada remnya dan joki tong setan tak pernah menggunakan pengaman apapun. Ateng mengatakan bahwa umumnya tong edan itu ada 2-3 joki. Tapi di dalam grup Berkah Jaya tinggal dirinya seorang.

Karena dua joki lainnya sudah pensiun. Jadi, kini Ateng tak punya lagi tandem ketika atraksi di dalam tong setan. “Identiknya joki tong setan itu pasti masih  bujang. Teman-teman saya lainnya yang sudah pensiun rata-rata sudah berumah tangga,” bebernya.

Pernahkah jatuh ketika atraksi di dalam tong edan? “Tak terhitung,’ ucap Ateng.

Karena risiko sering terjadi yakni ban pecah dan rantai motor macet. Jadi sebisa mungkin sebelum beraksi, motor harus dicek terlebih dahulu. Karena berisiko tinggi, joki tong edan juga paling tinggi bayarannya. Biasanya ia juga dipanggil grup pasar malam lain kalau emang sedang ada jeda.

“Perkiraan per hari ya dapat Rp 100 ribu. Tapi keuntungan joki tong setan itu meskipun tidak jalan karena ada masalah teknis, tetap dikasih bayaran,” katanya.

Tak terasa, malam pun semakin gelap. Pasar malam pun mulai ramai. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berlalu lalang mencoba berbagai wahana yang ada. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 20.30, Ateng mulai persiapkan diri beraksi di dalam tong edan.

Loket pun dibuka, pengunjung pun berbondong-bondong beli tiket masuk yang harganya sangat ekonomis, Rp 6.000. Penonton pun bergegas memenuhi lingkaran tong edan.

Tanpa basa-basi, Ateng pun menggeber motornya yang mengeluarkan suara sangat bising itu. Saat motor mulai panas, Ateng langsung memutari tong setan dengan berbagai atraksi.

Beberapa penonton pun menyawer Ateng dengan uang pecahan Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Beberapa ada juga yang menyawer rokok. Rutinitas roda memutar dengan ketinggian di area tong edan menunjukkan permainan kawak penuh risiko ini masih hidup. (*/rij)

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia