Rabu, 19 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Persaingan PPDB SMP Tidak Lagi Ketat

Tidak Ada Lagi Sekolah Favorit

19 Mei 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO - Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro memastikan tidak digunakannya nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP akan mempermudah siswa. Tentu, siswa tidak canggung lagi mendaftar di SMP yang dinginkannya selama masih dalam zona.

Kepala Disdik Bojonegoro Hanafi menjelaskan, selain untuk mempermudah siswa memilih sekolah, juga kedepan tidak ada lagi sekolah favorit dan sekolah tidak favorit. ‘’Jadi, semua sekolah nanti sama. Baik yang ada di kecamatan atau di kota,’’ katanya kemarin (18/5).

Hanafi menjelaskan, sekolah-sekolah yang ada di pinggiran akan diuntungkan dengan aturan baru ini. Sebab, siswa-siswa dengan nilai akademis bagus tidak menumpuk di sekolah-sekolah kota. ‘’Mereka nantinya akan menyebar di semua sekolah,’’ ungkap Hanafi.

Selama ini yang menjadi incaran banyak siswa adalah sekolah-sekolah di kawasan kota. Mulai SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 5 Bojonegoro. Siswa dengan perolehan nilai bagus berlomba masuk ke sekolah-sekolah tersebut.

Disdik tidak menambah jumlah pagu siswa di setiap kelasnya. Dalam satu kelas jumlah siswanya masih 32. Jumlah itu dinilai sudah ideal. ‘’Pagunya masih sama,’’ tegasnya.

Kasi Kesiswaan SMP Disdik Sugiharto menjelaskan, persaingan PPDB online tahun ini tidak akan seketat sebelumnya. Sebab, patokan untuk menerima siswa bukan nilai UNBK atau unas. Melainkan jarak kedekatan rumah siswa dari sekolah.

‘’Siswa yang rumahnya dekat diprioritaskan untuk diterima,’’ tuturnya.

Siswa luar daerah yang hendak bersekolah di Bojonegoro sudah diberikan kuota 10 persen. Mereka diberikan kesempatan ikut PPDB offline pada 13 hingga 15 Mei lalu. ‘’Yang offline sudah selesai,’’ jelasnya.

Sugiharto menjelaskan, siswa luar daerah masih diberikan kesempatan untuk ikut PPDB online namun tidak di sekolah dalam kota. Namun, di sekolah-sekolah kecamatan. Sebab, selama ini siswa luar daerah banyak yang menuju ke sekolah dalam kota.

‘’Kalau pinggiran boleh,’’ jelasnya.

Tahun depan, giliran sekolah swasta yang akan dikenai aturan zonasi. Namun, disdik masih sanksi apakah aturan itu akan diterapkan oleh sekolah swasta dengan baik. Sebab, selama ini sekolah swasta memiliki aturan tersendiri dalam pelaksanaan PPDB. Bahkan, mereka melaksanakan PPDB lebih dulu dibanding sekolah negeri.

(bj/zim/rij/yan/ai/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia