Minggu, 17 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Semua Siswa Lulus, Butuh Pemerataan Mutu Pendidikan

14 Mei 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Serentak, lembaga SMA/SMK mengumumkan kelulusan pelajar kelas XII kemarin (13/5). Pelajar di Kota Ledre dinyatakan 100 persen lulus. Namun, jika ditilik berdasar hasil nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK), kualitas pendidikan masih belum merata.

Bendahara Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMAN Bojonegoro Sigit Hartadi mengatakan, seluruh pelajar SMA telah dinyatakan lulus. Pengumuman serentak disampaikan melalui web lembaga sekolah masing-masing. “Alhamdulillah pelajar SMA se-Bojonegoro 100 persen lulus,” katanya kemarin (13/5).

Sementara itu, berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, terdapat 15 pelajar SMA mendapat nilai UNBK nol. Menanggapi hal ini, lanjut dia, tetap lulus karena nilai tersebut tak menjadi penentu kelulusan.

“Karena sesuai pengertiannya, yakni 100 persen lulus. Contohnya peserta yang tidak mengikuti ujian karena meninggal dunia otomatis telah dihapus dari daftar,” jelasnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Jawa Timur di Bojonegoro Adi Prayitno menambahkan, bahwa 15 pelajar tersebut tidak mengikuti ujian. Sehingga keseluruhan nilai mapel dan reratanya nol.

“Sudah masuk di daftar nominasi tetap. Tapi tidak hadir. Seperti meninggal dunia, bekerja dan ada pula yang menikah,” ujar dia.

Terlepas dari kondisi itu, Adi sapaannya, memberikan apresiasi dan ucapan selamat kepada pelajar yang lulus. Dia berpesan agar segera menata langkah demi kesuksesan di masa depan.

Meski begitu, dia menilai masih memiliki pekerjaan rumah masih perlu dibenahi. Yakni tentang pemerataan kualitas pendidikan SMA/SMK yang masih terkesan terpusat di kota. Contohnya dilihat dari hasil nilai UNBK.

“Masih banyak kesenjangan kualitas pendidikan di Bojonegoro. Nilai tertinggi masih didominasi sekolah di perkotaan,” katanya.

Karena itu, lanjut Adi, sistem zonasi 100 persen (tanpa nilai UNBK) pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 menjadi salah satu alat untuk menanggulanginya. Sehingga tidak ada lagi istilah sekolah favorit di kalangan masyarakat, demi meratanya kualitas pendidikan.

“Dalam waktu dekat juknis (petunjuk teknis)-nya dimungkinkan sudah turun. Karena ini masih proses tarik ulur dan ada juga yang perlu direvisi,” ucap dia.

Perihal tidak meratanya kualitas pendidikan di Bojonegoro, Ketua MKKS SMAN Bojonegoro Mashadi juga mengatakan, masih ada kesenjangan antarsekolah. Sebab, nilai tertinggi masih didominasi sekolah di perkotaan.

“Untuk itu, semua harus lebih terbuka. Dan sekolah yang memiliki kualitas mumpuni harus bisa mengimbaskan kepada sekolah lain. Seperti semboyan SMA ‘maju bersama hebat semua’,” ungkap dia.

(bj/dny/rij/aam/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia