Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Mudah Mati Saat Melaut, Perahu Elpiji Dikeluhkan Nelayan

11 Mei 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PERLU SOLUSI: Perahu nelayan Lamongan sedang berlabuh. Untuk perahu berbahan bakar elpiji bantuan pemerintah dikeluhkan nelayan karena mudah mati saat dipakai melaut.

PERLU SOLUSI: Perahu nelayan Lamongan sedang berlabuh. Untuk perahu berbahan bakar elpiji bantuan pemerintah dikeluhkan nelayan karena mudah mati saat dipakai melaut. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

PACIRAN – Perahu mesin berbahan bakar elpiji bantuan pemerintah pusat dikeluhkan nelayan. Perahu dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) itu mudah mati mesinnya ketika ada gelombang tinggi saat dipakai melaut.

 ‘’Baru saja kita terima keluhan dari nelayan. Pada saat gelombang tinggi, mesin (perahu bantuan itu) dirasa kurang kuat. Sehingga sering mati sendiri,’’ kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Mukhlisin Amar kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (10/5).

Sehingga, lanjut dia, sejumlah nelayan takut untuk menggunakan mesin tersebut. Mereka khawatir, ketika ada gelombang besar dan mesin mati, membuat perahu tak seimbang dan mudah terbalik. 

‘’Makanya nelayan akhirnya takut. Mereka (nelayan) kan yang tahu kondisi di lapangan,’’ ujarnya. 

Menurut dia, kini HNSI masih mengakomodir keluhan dari nelayan penerima bantuan perahu dengan mesin berbahan bakar elpiji. Rencananya keluhan tersebut bakal dilaporkan pada pihak terkait. ‘’Akan kita laporkan dan komunikasikan agar bisa dicarikan jalan keluar,’’ ucap mantan Ketua Rukun Nelayan (RN) Paciran tersebut.

Mukhlisin menjelaskan, terkait pasokan bahan bakar gas (BBG) untuk energi mesin perahu bantuan tersebut tidak menjadi kendala utama. Stok elpiji bagi nelayan pengguna mesin berbahan bakar elpiji tersebut selalu tersedia.

‘’Tidak pernah terjadi kelangkaan untuk bahan bakarnya. Kendalanya cuma mesin mati tiba-tiba saat di laut,’’ tukasnya.

Sebelumnya, lanjut dia, ada kendala saat pergantian tabung satu ke tabung yang lain saat di laut. Kini kendala tersebut sudah terselesaikan. ‘’Kita harapkan ke depan ada solusinya,’’ ujarnya.

Mukhlisin berharap, pada nelayan pemilik mesin berbahan bakar elpiji agar tetap bisa memanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai karena kendala tersebut, membuat mesin tak digunakan. Sebab mesin tersebut lebih efisien dibanding mesin berbahan bakar bensin. ‘’Dari tingkat efisiensinya cukup tinggi. Yang namanya penggunaan alat baru memang agak sedikit merepotkan, tapi harus tetap digunakan oleh nelayan,’’ pungkasnya.

(bj/ind/feb/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia