Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Dewan Pendidikan Desak Semua Aspek Dievaluasi

10 Mei 2019, 13: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Perolehan nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK) jenjang SMA/SMK/MA Bojonegoro se-Jawa Timur tak lampaui target 55.

Meski terdapat raihan di beberapa kategori, peringkat dan nilai Kota Ledre tak mampu berbicara banyak. Maka dari itu, semua komponen pendidikan harus berbenah dan mengevaluasi aspek yang dirasa kurang mumpuni.

Ketua Dewan Pendidikan Bojonegoro Sri Minarti mengatakan, seluruh komponen pendidikan harus lebih berusaha keras dan segera berbenah. Terlebih adanya perubahan dan evaluasi kepada guru atau pendidik.

“Semua komponen dan sistem pendidikan harus dievaluasi. Tidak bisa dari satu sisi anak didik saja yang dipacu, sementara tidak ada perubahan dari sisi pendidiknya,” kata dia kemarin (9/5).

Lanjut dia, saat ini informasi sudah berkembang sangat cepat. Sehingga perkembangan tersebut harus diikuti oleh semua pihak.

Guru dan lembaga sekolah tidak bisa hanya memaksa anak didik untuk belajar maksimal.

“Namun, pendidiknya sendiri harus bisa memberikan contoh tentang mutu pembelajaran pendidikan yang baik kepada pelajar,” tuturnya.

Jika pendidik masih belum berbenah, maka akan menjadi bumerang. Apalagi untuk menghadapi anak didik yang duduk di bangku SLTA. Sebab, mereka tengah memasuki masa transisi pendewasaan diri dan kritis.

“Sehingga, pendidik saat ini harus mampu menjadi fasilitator, mediator, salah satu sumber informasi, dan figur bagi anak didiknya,” ucap dia.

Imbuh dia, pelajar kelas XII sebenarnya mampu berpikir cepat dengan motivasi yang tinggi dan benar. Namun, mereka butuh dukungan dan rasa nyaman dalam memacu diri.

Sehingga, dia menilai faktor keluarga, pendidik, dan sistem pendidikan, di Bojonegoro belum maksimal.

“Sebab, semua komponen itu masih perlu perbaikan. Jadi sistem yang berjalan disertai partisipasi orang tua dan pendidik yang baik, maka hasil raihan anak didik akan sesuai harapan,” ujarnya.

Dimungkinkan, kondisi nilai ujian ini dipengaruhi karena tidak dijadikan penentu kelulusan. Sebab, sesuai kurikulum 2013, ada beberapa komponen yang menjadi pertimbangan kelulusan anak didik.

Tak hanya nilai ujian nasional dan sekolah saja, karakter serta kompetensi anak didik juga termasuk.

“Sebab, hal tersebut jauh lebih penting untuk disiapkan, apalagi untuk pelajar SMK. Kalau nilai ujiannya bagus, tapi keterampilannya tidak ada maka mereka tidak bisa bertahan ditengah masyarakat,” tutur dia.

Menurut dia, meski capaian nilai anak didik turun, keterampilan mereka saat ini lebih siap. Adapun terdapat satu poin penting yang menjadi kekhawatirannya, yakni minat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau kuliah.

“Saya takutkan, mereka tidak memiliki motivasi atau minat untuk melanjutkan kuliah,” katanya.

Sementara itu, berbeda dengan SMA dan SMK yang menyumbangkan lembaga di 10 besar Jatim, MA di Kota Ledre tak menyumbangkan namanya dalam beberapa kategori.

Seperti 10 besar MA dan peserta didik se-Jawa Timur.

Adapun, MA jurusan IPA di Bojonegoro peringkat ke-31 se-Jatim dengan rerata nilai 48,47. Lalu, MA jurusan IPS di Bojonegoro peringkat ke-26 se-Jatim dengan rerata nilai 45,23. Serta, MA jurusan bahasa di Bojonegoro peringkat 28 se-Jatim dengan rerata nilai 51,20.

Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdul Wahid mengatakan, nilai UNBK di bawah 55 se-Jatim memang turun, yakni sebesar 55 persen. Sebab tahun lalu mencapai 76 persen. Meski begitu, tak adanya raihan pada MA di Bojonegoro dalam semua kategori merupakan catatan tersendiri.

“Maka dari itu, saya akan mencanangkan gerakan membangun madrasah. Harus ada perbaikan dan evaluasi,” kata dia.

Lanjut dia, pertama, pihaknya kemarin telah melakukan diseminasi untuk memberikan pengarahan dan evaluasi terkait hasil UNBK. Rencananya juga akan mengikutsertakan para pengawas untuk mengikuti diklat pendidikan.

“Setelah itu, akan ada evaluasi kepada kepala madrasah se-Bojonegoro. Kemudian, mengevaluasi kompetensi pendidik di setiap madrasah,” jelasnya.

Menurut dia, evaluasi ini memungkinkan adanya pergeseran kepala madrasah dan pendidik di Bojonegoro. Tentunya agar terjadi pemerataan mutu pendidikan di berbagai lembaga madrasah.

(bj/dny/aam/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia