Minggu, 17 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Air Bengawan Jero Naik Lagi

04 Mei 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BANJIR LAGI: Jalan di Kecamatan Turi – Kalitengah kembali tergenang air Bengawan Jero yang ketinggiannya naik kemarin (3/5).

BANJIR LAGI: Jalan di Kecamatan Turi – Kalitengah kembali tergenang air Bengawan Jero yang ketinggiannya naik kemarin (3/5). (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

KOTA - Banjir Bengawan Jero belum berakhir. Bahkan, banjir tahunan tersebut belum bisa diurai masalahnya. Ketika intensitas hujan di wilayah hulu tinggi, maka air kembali meluber ke lahan pertanian warga.

Berdasarkan data BPBD Lamongan, luas lahan tambak terdampak kini mencapai sekitar 50 hektare. “Beberapa hari lalu banjirnya surut, sehingga hanya anak kali saja yang tinggi. Karena kiriman hulu, maka banjir kembali naik,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lamongan, Jannata.

Menurut dia, bencana banjir ini masalah tahunan. Ada banyak kendala untuk mengurai masalah tersebut. Salah satunya, minimnya pemahaman warga agar tidak membuang sampah di sungai. Juga, maraknya tumbuhan pengganggu seperti eceng gondok.

Dia menjelaskan, kiriman air dari hulu jalur bendungan waduk Gondang dan Prijetan semakin besar. Anak-anak kali yang mengarah ke Bengawan Jero juga penuh. Bahkan, sebagian tanggul kali tidak mampu menampung air terlalu deras. Dia mencontohkan tanggul kali Plalangan, Dusun Ngangkrik, Desa Balun, Kecamatan Turi yang ambrol dua kali. Akibatnya, laporan warga setempat ada 50 lahan pertanian terendam. Rincian kerugiannya sementara Rp 270 juta karena hanya beberapa petani tambak yang sudah menabur gelondongan bandeng dan vaname.

“Laporan masih sementara dan akan berubah sewaktu-waktu apabila banjir masih tinggi,” tuturnya.

Kabid Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas TPHP Lamongan, Djohan Budiman, menuturkan, data masuk ke dinasnya tidak ada yang puso. Hanya ada sejumlah kerusakan karena petani sudah masuk masa tanam usia 7 - 15 hari. Kerugian kerusakan ringan Rp 2 juta, kerusakan sedang Rp 2,5 juta, dan berat Rp 3 juta. Menurut dia, kerugiannya tidak banyak karena belum semua petani tanam.

(bj/rka/yan/jar/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia