Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Butuh Strategi Atur Inflasi saat Ramadan

25 April 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

EKONOMI: Suasana Pasar Kota kemarin siang (24/4). Pemkab diminta segera mengatur strategi untuk mengatasi terjadinya inflasi saat Ramadan mendatang.

EKONOMI: Suasana Pasar Kota kemarin siang (24/4). Pemkab diminta segera mengatur strategi untuk mengatasi terjadinya inflasi saat Ramadan mendatang. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

Berita Terkait

BOJONEGORO - Kenaikan harga sembako saat Ramadan harus diantisipasi segera mungkin. Sebab, potensi inflasi terbuka seiring permintaan bahan sembako menjelang puasa meningkat. Langkah antisipasi harus terarah karena kenaikan harga sembako bisa membebani masyarakat.

“Saat Ramadan biasanya permintaan meningkat. Itu memicu inflasi,” kata Kabag Perekonomian Pemkab Rahmat Junaedi di sela rapat koordinasi (rakor) penanganan inflasi kemarin (24/4).

Rahmat menjelaskan, mulai menyusun langkah untuk mengantisipasi kenaikan harga itu. Salah satunya dengan mengetahui pasokan-pasokan kebutuhan pokok di semua pasar. Mulai bahan pangan hingga bahan bakar minyak (BBM). Sebab, semuanya bisa memicu inflasi.

Yang menjadi perhatian serius adalah kedua kebutuhan itu. Mulai cabai, bawang merah, elpiji, dan BBM. Jika barang-barang itu pasokannya sedikit, kenaikan akan mudah terjadi. “Kita harus memastikan pasokan semua aman,” jelasnya.

Asisten Manajer Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Wayan Sri Widiastutik mengatakan, inflasi adalah kenaikan harga terus menerus dalam jangka panjang. Kondisi itu bisa membuat masyarakat resah karena harga semakin mahal. “Jadi harus ditentukan langkah mengantisipasinya,” ujarnya ditemui usai rapat di gedung pemkab kemarin (24/4).

Menurut dia, pemerintah pusat sudah memiliki strategi mengatasi inflasi itu. Salah satunya adalah dengan memastikan pasokan aman. Sebab, jika pasokan aman, kenaikan harga bisa ditekan.

Wayan menuturkan, inflasi sebenarnya adalah hal wajar dalam perekonomian. Itu menunjukkan adanya gairah perekonomian. Itu berbeda dengan resesi ekonomi yang memicu ekonomi tidak bergairah. “Kalau resesi itu ekonomi lesu. Sebaliknya inflasi ini ekonomi bergairah,” jelasnya.

Namun, inflasi berkepanjangan tentu tidak baik. Sebab, akan membuat masyarakat menjerit karena kebutuhan semakin mahal. “Tugas kami adalah mengendalikan inflasi ini,” jelasnya.

(bj/zim/rij/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia