Minggu, 21 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Di Blora, Satu Keguguran dan Tujuh Opname

Dua Petugas Pemilu Meninggal

24 April 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Proses pemilihan umum tahun ini begitu berat bagi panitia penyelenggara. Tumbang jatuh sakit usai bertugas masih menjadi pembahasan sejumlah petugas penyelenggara hingga kemarin (23/4). Apalagi, rekapitulasi surat suara di tingkat kecamatan hingga kini belum selesai.

Di Bojonegoro, terdapat dua petugas pemilu hingga meninggal dunia. Satu petugas KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) serta petugas linmas (perlindungan masyarakat). Serta, terdapat satu petugas KPPS masih opname. Dua KPPS tersebut sama-sama menjadi korban kecelakaan setelah kecapekan bertugas. Hanya, lokasi insiden terpisah.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Bojonegoro Abdim Munib mengaku sudah mendapat informasi dua petugas pemilu yang meninggal dan satunya opname. Terbaru menimpa petugas linmas asal Desa Sidodadi, Kecamaatan Sukosewu, Minggu (21/4) meninggal.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, petugas pengamanan tempat pemungutan suara (TPS) itu ikut mengamankan proses pemungutan dan penghitungan suara di desa dan kecamatan setempat. “Yang di Desa Sidodadi, Sukosewu, itu linmas. Meninggal setelah bertugas,” katanya.

Sementara KPPS yang meninggal, yakni Supriyadi. Korban bertugas  KPPS di TPS 10 Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo. Meninggal setelah lembur rekap di tingkat kecamatan Jumat (20/4). Korban terjatuh dari motor yang dikendarai ketika melintas di jalan Desa Geneng kecamatan setempat.

Kepala Desa Meduri Hariyadi mengatakan, korban meninggal setelah dilarikan ke puskesmas terdekat. Sebab, luka dialami korban cukup serius. Korban terluka karena terjatuh dari motornya usai menghitung suara pemilu di tingkat kecamatan.

“Jatuh ketika pulang dari lembur rekap,’ katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Dia menuturkan, terjatuhnya korban itu saat usai dari kantor kecamatan ikut menghitung surat suara. Lalu, menghadiri hajatan temannya, saat berangkat korban bersama teman-temannya. Namun, naik motor sendiri.

Pulang menghadiri hajatan, diduga kondisi badan lelah, korban terjatuh hingga luka serius. “Itu karena lelah, lembur menghitung surat suara,” ungkap dia. Menurut dia, korban saat menjadi petugas di TPS 10 tampak semangat. Kegigihannya mengabaikan kesehatanya.

Di Blora, KPUK setempat mencatat ada delapan panitia sakit dan opname. Satu di antaranya hingga di rujuk di rumah sakit Solo. Bahkan, satu petugas hingga keguguran. Ketua KPU Blora M. hamdun mengakui pelaksanaan pemilu tahun ini sangat berat. Panitia pemilu harus bekerja 24 jam penuh. Sehingga, menyebabkan panitia tidak sempat istirahat. Hingga mereka sakit.

Selain itu pekerjaan panitia lebih berat dibanding pengawas. Selain harus begadang mereka juga harus menghitung surat suara. Itu menyebabkan petugas banyak yang tumbang.

Seperti Novi Nur Cahyani hingga keguguran. Petugas KPPS 4 Desa Sumberejo, Kecamatan Japah, dengan keadaan hamil tetap bekerja menyelesaikan penghitungan di TPS. Sampai mendekati pagi. Keesokan harinya mengalami pendarahan hingga akhirnya keguguran.

Sedangkan, petugas yang opname di rumah sakit seperti Alfiaturrohmaniah petugas panitia pemilihan kecamatan (PPK) Jiken. Dia melakukan rawat inap di puskesmas. Supriyono petugas PPK Jiken sakit sejak 19 April.

Ita Solikah KPPS 3 Kedungwaru, Kecamatan Kunduran; Sugiarto KPPS Kradenan; Marsono KPPS 5 Karangjati saat ini harus opname ke RS Moewardi Solo. Dan, Siska Suci KPPS 6 Jurangjero, Bogorejo. “Ini ada masuk satu lagi tapi belum sempat mencatatnya,” ujarnya.

Meskipun saat ini banyak petugas pelaksana pemilu kesehatan drop karena penghitungan, ternyata tidak ada asuransi. “Sehingga tidak ada jaminan jika kecelakaan atau sakit,” ujarnya.

Untuk menyiasati itu KPU berjanji tetap memberi bantuan. Tapi itu akan dikoordinir KPU provinsi dan RI. Tapi itu akan diberikan setelah proses pelaksanaan pemilu ini selesai. “Nanti KPU akan iuran untuk bantuan itu,” imbuhnya.

Menurut Hamdun, pemilu serentak ini berat. Memakan waktu panjang di TPS dan PPK. Seperti seminggu terakhir panita harus bekerja 24 jam. “Itu sangat tidak manusiawi,” ujarnya. Tapi kalau tidak dikerjakan tidak akan selesai. Karena itu KPU setempat akan mengevaluasi.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Blora Sugie Rusyono mengatakan, bukan hanya panitia penyelengara saja yang sampai drop. Dari panita pengawas mengalami hal yang sama. “Ada 4 yang sakit. Yang sampai di rumah sakit ada 3,” jelasnya. (msu/fud/rij)

(bj/msu/fud/rij/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia