Minggu, 19 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Masyarakat Samin Usung Hashtag SaminNoGolput

Antusias Memilih, Tak Tertarik Terjun Dunia Politik

Oleh: MUHDANY Y. LAKSONO

21 April 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PARTISIPASI PEMILU: Warga Samin antusias mencoblos datang ke TPS dalam pemilu serentak.

PARTISIPASI PEMILU: Warga Samin antusias mencoblos datang ke TPS dalam pemilu serentak. (MUHDANY YUSUF LAKSONO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

DENGAN kesederhanaannya, masyarakat samin antusias dalam pemilu serentak. Masyarakat di pedalaman Bojonegoro berbatasan Ngawi itu memilih tanpa paksaan dan money politics.

Pelaksanaan Pemilu 2019 serentak telah usai. Namun, tedapat salah satu momen membuat Jawa Pos Radar Bojonegoro terkesan. Yakni partisipasi pemilu Masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, ternyata cukup antusias.

Kala itu, Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mengunjungi dan menyaksikan antusiasme masyarakat Samin. Lokasi masyarakat Samin di Dusun Jepang ini berjarak kurang lebih 65 kilometer dari Kecamatan Kota. Cukup jauh. Justru, masyarakat Samin ini lokasinya dekat dengan Kabupaten Ngawi.

Saat jalannya pemungutan suara, di salah satu tempat pemungutan suara (TPS), terdapat masyarakat samin yang mengusung hashtag SaminNoGolput. Hal tersebut terlihat jelas saat adanya pertemuan dengan generasi asli dari Mbah Harjo Kardi sesepuh masyarakat Samin keturunan Samin Surosentiko.

Mbah Harjo Kardi, sang istri, dan anak serta cucu-cucunya memperlihatkan antusiasme yang tinggi dalam pesta demokrasi. Bahkan mereka berswafoto sambil menunjukkan kelingkingnya yang dibalut tinta.

"Ayo foto bersama dulu. Kita mengusunh hashtag SaminNoGolput. Nanti kita upload di media sosial," kata Bambang Sutrisno, salah satu putra Mbah Harjo Kardi.

Menurut Tris, sapaannya, gerakan tersebut diusung sebagai bentuk partisipasi untuk memilih pemimpin negara yang baru. Terlebih, menunjukkan bahwa masyarakat Samin adalah orang-orang yang taat akan aturan pemerintah.

"Masyarakat Samin juga peduli akan keberlangsungan atau jalannya pemerintahan Indonesia. Karena kita sudah merdeka dan lepas dari kolonialisme," jelasnya.

Lanjut dia, leluluhurnya (Samin Surosentiko) bersama sang ayah telah berpesan bahwa jika Pulau Jawa telah dipimpin orang Jawa, pihaknya harus mengikuti aturan. Masyarakat Samin juga turut berbaur dengan dunia luar.

"Jadi tidak ada istilah golput bagi masyarakat Samin. Terpenting tidak ada unsur paksaan dalam keputusan mengambil suaranya," tutur dia.

Menurut dia, masyarakat Samin menentukan pilihan berdasarkan keinginan dan hati nuraninya masing-masing. Tidak ada istilah paksaan ataupun money politics atau politik uang dibelakangnya. Sebab, hal tersebut tidak terkandung dalam ajaran Sedulur Sikep Samin.

"Tidak ada hal-hal seperti di masyarakat Samin dan kita memang menolak. Kejujuran hati nurani tidak bisa dibeli," ujarnya.

Dia mencontohkan, perihal capres dan cawapres. Masyarakat samin mengambil keputusan berdasarkan tayangan di media massa. Sehingga, mereka mengikuti perkembangan para politikus tersebut.

"Tidak asal pilih dan sesuai dengan keinginan hati nurani masing-masing," ucap dia.

Tak jarang ada beberapa orang berusia lanjut menentukan pilihan dengan mengingat nomor urutnya. Sebab, menghafal wajah seseorang juga tak mudah. Maklum, faktor usia terkadang menjadi kendala.

"Sehingga terkadang mereka menghafalkan nomor urut dan partainya saat proses pencoblosan," kata dia.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa masyarakat Samin tidak memiliki ketertarikan sedikitpun untuk turut dalam dunia politik. Sebab, kesederhanaan dan menjalani hidup apa adanya telah menjadi ciri khas.

"Misalkan ingin, sudah dari dulu ada yang berkecimpung di sana (dunia politik). Hidup kita itu tidak muluk-muluk, terpenting selalu jujur dengan hati dan tetap menjaga kerukunan atau sesuai ajaran," jelasnya.

Lanjutnya, ajaran Sedulur Sikep Saminisme merupakan identitas utama. Sehingga, meski masyarakat Samin telah terbuka dengan perkembangan dunia luar, wejangan yang terkandung tetap dipegang teguh.

"Disini juga sudah ada wifi. Jadi masyarakat Samin sudah mulai modern tanpa mengesampingkan ajaran yang kita pegang," imbuh dia.

Budaya jujur, tidak mengambil hak orang lain, gotong royong dan sebagainya juga masih terjaga. Misalkan saja ada seseorang hendak membangun atau memperbaiki rumah, juga turut membantu tanpa pamrih.

"Semua orang khususnya pria berbondong-bondong membantu. Sedangkan wanita membawa beras atau hasil bumi lainnya," ucapnya.

(bj/rij/yan/dny/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia