Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Kerukunan Pemilu Masyarakat Samin

18 April 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DEMI BANGSA: Waini istri Lasiyo, sesepuh Sedulur Sikep Klopoduwur, Blora, saat memasukkan surat suara. Warga Samin di Bojonegoro dan Blora antusias pemilu.

DEMI BANGSA: Waini istri Lasiyo, sesepuh Sedulur Sikep Klopoduwur, Blora, saat memasukkan surat suara. Warga Samin di Bojonegoro dan Blora antusias pemilu. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/JAWA POS RADAR BLORA)

BOJONEGORO - Pagi terasa dingin dan berkabut ketika mendatangi Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, kemarin (17/4). Terlihat gapura dusun bertuliskan Kampung Samin begitu mencolok. Sepagi itu, dusun yang dihuni beragam pengikut Samin ini sudah beraktivitas.

Harjo Kardi, sesepuh warga setempat membersihkan halaman rumahnya. Kakek 88 tahun itu menyambut hangat. Sembari melanjutkan aktivitasnya yang hampir selesai, generasi keempat Samin Surosentiko tersebut mempersilakan masuk.

“Pagi-pagi sudah sampai sini. Silahkan masuk,” kata pria yang khas memakai iket di kepalanya itu.

Mbah Harjo bercerita panjang tentang masyarakat Samin. Gayeng. Hingga akhirnya, Mbah Harjo izin hendak mandi karena akan berangkat ke TPS. “Tempat saya mencoblos di TPS 14,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

TPS di Dusun Jepang terasa khas. Menempati rumah jenis srontong berbahan kayu jati. Warga sebagai pemilih tampak ramai memenuhi pintu masuk dan teras TPS. Tanpa memakai sandal menuju TPS. Duduk lesehan di teras TPS menunggu antrean. Ada juga yang melihat surat suara yang dipasang di dinding kayu.

Mbah Harjo berjalan santai menuju TPS. Bercelana hitam. Baju batik dan memakai iket khas masyarakat Sedulur Samin. Bergegas masuk ke TPS dan menuntaskan kewajibannya menggunakan hak pilih.

“Semoga tetap bisa menjaga kerukunan dan gotong-royong. Zaman sudah semakin tua, harus selalu hati-hati dan mawas diri,” pesannya.

Enam orang generasi Mbah Harjo (asli Samin Surosentiko) merapat dalam TPS 14. Mereka pun secara kompak mengenakan atribut berupa kaus bergambarkan Samin Surosentiko dan iket kepala.

Khas warga Sedulur Samin cukup terasa saat pencoblosan di Dusun Jepang. Petugas kelompok panitia pemungutan suara (KPPS) berpenampilan hampir sama dengan apa yang digunakan Mbah Harjo. Celana hitam, baju batik, dan iket kepala khas masyarakat Samin.     

Terdapat tiga lokasi tempat pencoblosan di Kampung Samin atau Dusun Jepang. Yakni TPS 14 (rumah Ketua RT 01 Sidi), TPS 15 (rumah Kepala Dusun Jepang Sukijan), dan TPS 16 (rumah Bapak Sutikno). Hanya satu dari tiga TPS menggunakan ageman masyarakat Samin.

Kondisi masyarakat Samin saat ini telah berbeda dengan tempo dulu. Pakaian serbahitam dan iket kepala sebagai ciri khas penampilan mulai jarang terlihat. Padahal dari 685 DPT, ada sekitar kurang lebih 100 KK pengikut Sedulur Samin.

Bambang Sutrisno, salah satu putra Mbah Harjo Kardi mengatakan, bapaknya (Mbah Harjo) telah lama memberi pesan kepada masyarakat Samin agar mulai menggunakan pakaian biasa dalam keseharian. Istilahnya mempergunakan pakaian khas saat ada acara khusus .

“Sekarang zaman sudah modern, pakaian di pasar banyak dan harganya terjangkau,” ujar dia.

Alasan masyarakat Samin menggunakan ageman serbahitam karena bahan kain yang murah. Selain itu juga tidak mudah kotor. Maklum, profesi masyarakat Samin, yaitu bertani dan beternak.

“Kalau sekarang, kita sudah membuka diri dan ikut berbaur atau berkembang seiring zaman,” tuturnya.

Meski begitu, imbuh dia, terpaan modernisasi di perkampungan Sedulur Sikep Samin tak sampai menggoyahkan pedoman ajarannya. Sebab, ajaran tersebutlah yang sebenarnya menjadi identitas utama. “Jadi ajarannya tetap kita pegang teguh. Banyak hal di dalamnya. Namun, intinya tentang kejujuran hati dan kerukunan,” jelas dia.

(bj/dny/rij/aam/fud/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia