Minggu, 20 Oct 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

23 Warga Adukan Karaoke Ilegal ke Bupati

10 April 2019, 12: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa)

Share this      

TUBAN – Dua puluh tiga warga Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding tak bisa menyembunyikan keresahannya terkait keberadaan karaoke ilegal di desanya. Karena protes mereka kepada pemilik tempat hiburan tersebut tak digubris, kemarin (9/4) puluhan warga wadul ke bupati melalui surat mosi tidak percaya yang ditandatangani warga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Dalam suratnya yang berisi delapan poin tersebut, warga mengupas aktivitas karaoke milik kepala desa setempat Hari Winarko yang  menyalahgunakan izin usaha rumah makan dan cafe.

Warga mengungkapkan memiliki bukti kuat karaoke tersebut menjual minuman keras (miras) jenis bir dan keberadaan pemandu lagu atau purel.

Juga, operasional karaoke yang buka 24 jam dan memiliki fasilitas empat ruang VIP.

Dalam suratnya, warga juga menyatakan keberatan terkait kegiatan usaha karaoke tersebut karena tidak sesuai dengan visi Kabupaten Tuban sebagai Bumi Wali. Hal lain yang permasalahkan, penggunaan nama Barat Ketiga (dipercaya sebagai nama lain Mahapatih Gajahmada, Red) sebagai nama tempat yang meresahkan warga tersebut. ‘’Tidak pantas pemberian nama Barat Ketiga, karena nama tokoh itu diagungkan masyarakat,’’ tulis surat tersebut.

Di bagian akhir suratnya, warga berharap bupati meninjau ulang izin rumah makan dan kafe Barat Ketiga dan menutup kegiatan karaoke ilegal di rumah makan tersebut.

Warga yang membubuhkan tanda tangan dalam surat tersebut dari berbagai latar belakang. Antara lain, Nur Salim (mudin), Suparno (tokoh masyarakat), Syaifullah (rois syuriah MWC NU Kecamatan Semanding), M. Ridwan (tokoh masyarakat), M. Sugiharto (takmir masjid), Heriminto (ketua tanfidz NU), Hadi Purwanto (ketua BUMDes), dan elemen masyarakat lainnya.

Kepada Jawa Pos Radar Tuban, warga yang tanda tangan mengatakan kepala desa yang diduga pemilik usaha karaoke ilegal tersebut sudah beberapa kali diingatkan dan ditegur. Namun, dia mengabaikan. ‘’Pendekatan dan penyampaian aspirasi secara pribadi tidak dihiraukan pemilik karaoke,’’ ujar Nur Salim.

Di kantor media ini kemarin petang, Kepala Desa Prunggahan Wetan Hari Winarko menolak tudingan menyediakan purel di tempat usahanya. Dikatakan dia, di warung dan kafe yang dibuka sejak dua tahun lalu tersebut hanya menyediakan meeting room. Jumlahnya pun hanya 2 ruang, bukan 4 ruang seperti yang dituduhkan. Jam operasinya pun bukan 24 jam, namun mulai pukul 10.00 hingga 22.00. ‘’Kalau ada foto pelanggan dengan perempuan, itu dia bawa (perempuan, Red) sendiri. Bukan kami yang menyediakan,’’ tepis dia.

Ditambahkan Hari, terkait minuman beralkohol yang dijual, dia mengaku mengambil miras tersebut dari warung di depan rumahnya. Penjualan miras tersebut, diklaim Hari sudah mendapat izin dari dinas penanaman modal, pelayanan terpadu satu pintu, dan tenaga kerja (DPMPTS dan naker). ‘’Usaha saya sudah mengantongi izin dari instansi yang berwenang,’’ tegas dia. Dan, warga sekitar tidak ada yang mempermasalahkan dan keberatan.

(bj/yud/ds/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia