Kamis, 17 Oct 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Bikin Sepeda Listrik dari Bahan Bekas

Ratusan Kali Gagal, Sepeda Bisa Menempuh 40 Km

Oleh: M. NURKOZIM

07 April 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

INOVASI: Kholili duduk di samping sepeda listrik buatannya. Sepeda miliknya ini sudah diuji menempuh di dua kecamatan.

INOVASI: Kholili duduk di samping sepeda listrik buatannya. Sepeda miliknya ini sudah diuji menempuh di dua kecamatan. (MOCHAMAD NURKOZIM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

SEPEDA listrik kini banyak ditemui. Banyak pabrikan mulai memproduksi motor jenis baru itu. Namun, sepeda listrik buatan Kholili ini berbeda. Dia membuatnya dari bahan bekas. 

Muhammad Faiz Kholili tengah bergembira. Perjuangannya membuat sepeda listrik selama tiga tahun ini berhasil. Tinggal uji coba. Berkeliling di semua wilayah Bojonegoro. Dari Kecamatan Baureno sampai Kecamatan Margomulyo.

‘’Uji coba sudah saya lakukan di dua kecamatan. Malo dan Ngasem,’’ ujarnya saat ditemui di rumahnya Desa Jampet, Kecamatan Ngasem kemarin (6/4).

Itulah Kholili. Pemuda asal Desa Jampet, ini berhasil menciptakan sepeda listrik pertamanya. Mungkin satu-satunya anak Bojonegoro yang membuat sepeda listrik. Dari bahan bekas.

Sepeda listrik buatan Kholili ini unik. Selain dari barang bekas. Proses pembuatannya juga penuh dengan perjuangan. Membutuhkan waktu sangat lama. Tiga tahun. Harus melalui percobaan dulu.

Ratusan kali gagal. Namun, dengan semangat yang membara Kholili tidak menyerah. Dia terus berusaha memperbaiki sepeda listrik buatannya itu. ‘’Sudah tidak terhitung lagi berapa kali gagalnya,’’ ujarnya dengan senyum.

Pria berprofesi sebagai guru di salah satu madrasah aliyah (MA) itu menuturkan, pembuatan sepeda itu bermula pada 2016 lalu. Ketika itu, ada sepeda tua rusak di rumahnya.

Dia pun berpikir untuk memanfaatkan sepeda tua itu. Namun, kalau hanya diperbaiki saja tidak unik. Harus ada inovasinya. Lalu terlintaslah dipikirannya membuat sepeda listrik. Rangka sepeda tua itu kemudian dia bawa ke bengkel las. Dia ubah bentuknya.

‘’Bentuknya saya ubah total. Tampilannya supaya lebih bagus,’’ ujarnya.

Setelah rangka terbentuk, adalah proses pelistrikan. Inilah proses paling lama. Membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya. ‘’Sebenarnya bisa lebih cepat. Tapi, saya mengerjakannya saat waktu longgar. Juga saat ada biaya. Maklum, biaya seadannya,’’ kelakarnya.

Untuk menggerakannya dia harus memasang dinamo. Untuk menemukan dinamo yang pas memang bukan perkara mudah. Berkali-kali gagal hanya karena dinamo yang tidak cocok. ‘’Saya terus mencari referensi di YouTube. Akhirnya menemukan dinamo yang pas,’’ jelasnya.

Dinamo itu harus dibeli di luar kota. Di Bojonegoro belum ada yang jual. Namun, itu bukan lagi masalah. Semuanya bisa dibeli melalui online. Setelah dipasang semua, Kholili langsung uji coba. ‘’Lancar. Bisa berjalan dengan baik,’’ ujarnya.

Sekali me-charge atau cas selama 5 jam. Bisa menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer (km). Kecepatannya juga lumayan 35 km per jam. Hampir sama dengan sepeda listrik buatan pabrikan.

Uji coba perdana dilakukan di Kecamatan Ngasem dan Malo. Dua kecamatan itu dijelajahi dengan sepeda listrik itu. ‘’Lancar. Tapi jalannya memang tidak begitu cepat. Karena ban yang saya pakai ini ban vespa,’’ jelas pemuda 30 tahun ini.

Kholili menjelaskan, memang masih banyak kekurangan di sepeda listrik buatannya. Di antaranya tidak ada indikator baterai. Hal itu membuat motor mogok mendadak saat habis.

‘’Tapi di Bojonegoro enak. Saat di Malo saya mampir rumah warga dan numpang cas sebentar,’’ ungkap dia.

Saat ini, Kholili akan melanjutkan penjelajahannya lagi. ‘’Selanjutnya akan melewati Kecamatan Trucuk,’’ ungkapnya.

(bj/zim/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia