Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Pemilik Sanggar Ingin Lestarikan Jaranan

Setiap Bulan Gelar Pertunjukkan di Sanggar

Oleh: RIKA RATMAWATI

05 April 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

LESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL: Personel jaranan dari Sanggar Turonggo Putro.

LESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL: Personel jaranan dari Sanggar Turonggo Putro. (RIKA RATMAWATI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

JARANAN termasuk kesenian tradisional yang jarang peminatnya. Bagas Puji Pangestu mencoba melestarikan kesenian tersebut dengan merangkul kalangan siswa SMP dan SMA.

Mencari waktu untuk bertemu Bagas Puji Pangestu cukup sulit. Sebab, seniman tersebut sibuk akhir – akhir ini. Dia hanya bisa disapa melalui sambungan seluler.

Bagas menceritakan perjuangannya saat mengajak para generasi muda di desanya untuk belajar tari jaranan. Tidak sedikit dari pelajar tersebut menolak dan merasa malu. “Pertama saya ajak, mereka yang rerata anak SMP, SMA pasti menolak dan malu,” ujar pemilik sanggar Turonggo Putro tersebut.

Namun, Bagas masih bisa mengenalkan kesenian jaranan kepada siswanya di SMK Muhammadiyah 3 Ngimbang. Dia memerkenalkan melalui pertunjukan yang digelar di sanggarnya setiap satu bulan sekali.

Sadar jika penikmat kalangan muda terbatas, maka Bagas juga menempuh pendekatan bahwa jaranan bukan sebagai kesenian yang aneh dan kasar. Juga sebagai seni yang enak untuk dinikmati, salah satunya karena musiknya. Bahkan, musik yang dibawakan Bagas berbeda dari biasanya. Lebih santai dan cenderung anak muda.

Dengan jurus tersebut, peminat kesenian tari jaranan dan reog mulai berdatangan. Khususnya anak perempuan. Mereka penasaran dan ingin belajar gerakannya yang disebut lebih luwes.

Setiap minggu, Bagas mengagendakan latihan bersama muridnya dan murid lain di SMAN 1 Ngimbang, SMP, hingga mahasiswi. Gamelan tradisional juga ditabuh pelajar.

Grup jaranan ini sering menjuarai festival seni kabupaten. Mereka kerap diminta mengisi sejumlah acara-acara yang digelar baik dalam maupun luar kota. “Ini menambah semangat mereka untuk latihan,” jelasnya.

Bulan lalu, anak asuhnya dikirim ke Kediri untuk mengikuti festival jaranan tingkat provinsi. Meski persiapannya singkat, mereka berhasil memboyong juara dua. “Temanya dari sana, persiapannya kurang dari satu bulan,” tuturnya.

Kompetisi yang diikuti anak asuhnya itu sistemnya gugur. Mereka yang tidak bisa menyelesaikan tantangan juri, maka otomatis tereliminasi. Sejak awal, anak asuhnya keluar dari zona aman. Mereka bermain di luar tema yang biasa digunakan, yakni senterewe. Mereka memainkan tema pegon, dengan formasi dan gerakan yang berbeda.

(bj/rka/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia