Kamis, 17 Oct 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Sriyatni, Guru yang Penulis Produktif

Telurkan Lima Buku, Ide dari Pengalaman Pribadi

Oleh: YUDHA SATRIA ADITAMA

05 April 2019, 11: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PENULIS AKTIF: Sriyatni menunjukkan lima buku karyanya.

PENULIS AKTIF: Sriyatni menunjukkan lima buku karyanya. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

KESIBUKAN Sriyatni, 43, mengajar di salah satu sekolah dasar negeri (SDN) tak menghalanginya menggeluti dunia kepenulisan. Pendidik yang aktif di dunia literasi ini sementara sukses menerbitkan lima buku.

Pengalaman hidup menjadi ide utama Sriyatni dalam menulis novel berjudul Menembus Kalbu Kehidupan. Karya nonfiksi 0 halaman yang diterbitkan Media Guru Pustaka tersebut bercerita pengalamannya sejak muda. Mulai masa sekolah menengah atas (SMA), kuliah, hingga merantau ke berbagai kota di Indonesia untuk kerja serabutan.

Salah satu yang paling menyentuh hati adalah bab Kiat Membelajarkan ABK (anak berkebutuhan khusus). Pada bab tersebut, Sriyatni mengangkat kehidupan anak sulungnya yang disabilitas. Anak lelakinya tersebut mengalami bawaan lahir. Salah satu otaknya divonis dokter berukuran kecil dari orang normal. ‘’Buku ini sebagai saksi bagaimana saya bangkit dan mengisi hidup sampai sekarang,’’ tutur dia.

Sebelum menjadi aparatur sipil negara (ASN) pada 2008, Sriyatni menjadi guru tidak tetap (GTT) selama tujuh tahun. Karena memiliki pendapatan yang kecila, selama menjadi GTT, Sriyatni juga sempat berjualan keliling nasi bungkus.

Perjuangan dalam bertahan hidup tersebut dituangkan pada seluruh tulisan-tulisannya. ‘’Semua pengalaman saya tulis untuk memotivasi pembaca,’’ imbuh dia.

Selain novel, Guru SDN Sumurjalak 2, Kecamatan Plumpang ini juga sudah menelurkan Pesona Bumi Wali, sebuah buku referensi wisata di Tuban. Lengkap dengan budaya daerah sekitar. Dua buku lainnya berjudul Selamanya Santri dan Arunika Sang Dwija. ‘’Target saya satu bulan menerbitkan satu buku. Sekarang sudah empat draf buku yang siap cetak,’’ kata dia.

Sriyatni mengakui menjadi penulis produktif tidaklah mudah. Sarjana pendidikan Universitas Terbuka (UT) Surabaya ini mengatakan, harus ada target khusus pada diri sendiri agar konsisten menulis dari awal hingga selesai cerita. Per hari, Sriyatni mewajibkan dirinya untuk menulis satu hingga dua jam. ‘’Sehari wajib membaca dan menulis minimal dua jam. Itu harus konsisten. Setiap hari,’’ imbuhnya.

Saat ini, pendidik yang tinggal di Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang ini tengah merencanakan untuk menerbitkan empat karya barunya. Dia membocorkan, empat karya yang siap cetak tersebut tak jauh beda dengan novelnya sebelumnya. Yakni, menceritakan tentang pengalaman hidup dirinya dan orang di sekitarnya. ‘’Saya akan terus membumikan kebiasaan membaca dan menulis hingga akhir hayat,’’ kata pendidik yang mengidolakan penulis Andrea Hirata ini.

Selain penulis produktif, Sriyatni juga aktif di sejumlah komunitas literasi dan kepenulisan. Dia juga sukses membimbing anak-anak sekolah dasar (SD) untuk mencintai dan membudayakan literasi sejak dini. Anak didiknya dibimbing dan dicetak agar menjadi penulis produktif. Salah satu karya anak didiknya adalah kumpulan cerpen Kusambut Mentari Pagi yang juga beredar di pasaran. ‘’Sejak SD saya cinta literasi,’’ ungkapnya.

Sriyatni juga merupakan trainer nasional Mediaguru untuk membumikan literasi di Indonesia. Dia sering diundang menjadi pembicara seminar nasional tentang cara menulis dan menerbitkan buku. Prestasinya di dunia kepenulisan sudah tak diragukan lagi. Antara lain juara 1 pembuatan modul Tuban 2017, finalis olimpiade guru Tuban 2018, juara 3 lomba kreativitas guru Tuban 2019, dan masih banyak lainnya.

(bj/yud/ds/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia