Minggu, 18 Aug 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Moch. Pariyono Pembuat Ukiran Lambang Negara

Agar Generasi Muda Mengenal Jati Diri Bangsa

Oleh: MUHAMMAD SUAEB

04 April 2019, 10: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

HEBAT: Pariyono terus berkarya untuk bangsa.

HEBAT: Pariyono terus berkarya untuk bangsa. (MUHAMMAD SUAEB/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

SETAHUN terakhir ini, Moch. Pariyono berkarya membuat kerajinan burung garuda pancasila dari kayu jati. Pria berusia 38 tahun itu sengaja membuat kerajinan lambang negara itu karena resah banyak generasi penerus yang mulai tak memiliki jiwa nasionalisme.

Pria ini murah senyum. Dia bahkan tidak pelit informasi tentang pengalamannya. Keramahan itulah yang membuat pria ini mudah akrab dengan semua orang. Dia memiliki jaringan antardaerah.

Kenalannya di beberapa daerah itu yang memotivasinya untuk berkarya membuat kerajinan burung garuda pancasila dari kayu jati. Pria itu Moch. Pariyono.

Dia menggunakan bahan baku kayu jati bukan tanpa alasan. Dia tak kesulitan. Sebab, di sekitar kampungnya di Desa Senganten, Kecamatan Gondang, masih banyak pohon jati yang menjulang tinggi. “Awalnya resah, sudah jarang yang memahami dasar negara,” tutur pria kelahiran 2 Mei 1981 itu.

Berawal dari keresahan karena jarang orang memahami dasar negara, dia termotivasi untuk berkarya membuat ukiran kayu berbentuk burung garuda pancasila. Awalnya, hanya untuk kebutuhan pribadi dan beberapa keluarga serta temannya di luar kota.

Karyanya itu kemudian ditempel di dinding ruang tamu. Selain sebagai hiasan, juga mengenalkan lambing Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa.

“Dari coba-coba itu, akhirnya jadi jalan rezeki,” ujarnya sambil tersenyum.

Untuk proses pembuatan kerajinan burung garuda pancasila, kata dia, membutuhkan beberapa proses. Dari papan kayu yang ukurannya berbeda, kemudian di sambung untuk membentuk lembaran sesuai ukuran burung garuda pancasila.

Setelah tersambung kemudian dipola dengan pensil atau alat tulis lain, membentuk burung garuda pancasila. Setelah itu, kemudian diukir dengan alat khusus, untuk proses pembuatan mulai awal hingga terlihat pola burung garuda, membutuhkan sekitar 2 hari.

Agar penampilan karyanya lebih menarik, kemudian ukiran burung tersebut diampelas agar halus. Kemudian dikasih pewarna atau dipelitur. Untuk proses pelitur tergentung cuaca, karena untuk mengeringkannya membutuhkan sinar matahari.

Karyanya sudah tembus beberapa provinsi di Indonesia, akhir-akhir ini banyak pesanan dari Pulau Dewata. “Sudah banyak luar kota yang pesan, terakhir dari Bali, ini kewalahan memenuhi pesanan,” ungkapnya.

Pariyono khawatir dengan generasi penerus yang mulai tak memahami dasar negaranya. Padahal, di dalam pancasila isinya lengkap, isi kandungan Alquran  juga terkandung di dalamnya, kemudian mengandung persatuan antarwarga negara.

Dengan membuat kerajinan burung garuda pancasila, secara tidak langsung akan memupuk budaya yang hampir punah.

“Dulu sewaktu saya kecil setiap masuk rumah pasti garuda pancasila dan gambar presiden serta wakil presiden. Tapi sekarang budaya memasang dasar negara di rumah sudah hampir punah,” ujarnya prihatin.

Sesuai pengamatan Pariyono, lambang negara itu harus digalakkan lagi, karena lambang tersebut di beberapa kantor desa sudah mulai tak terpasang. Sehingga, banyak generasi bangsa ini yang sudah mulai tak mengenal dasar negara.

Dengan adanya ukiran garuda pancasila ini, dia berharap generasi muda ke depan menjadi generasi yang memegang teguh Pancasila. Sehingga menjadi warga negara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Dan tercipta generasi penerus memiliki watak berbangsa dan bernegara yang berbudi luhur.

(bj/msu/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia