Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Mengupas TMMD Ke-104 TA 2019 Brangkal

Merajut Kebersamaan, Mewujudkan ''Mimpi''

Oleh: DWI SETIAWAN

03 April 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BISA TERSENYUM: Samido dengan rumah barunya yang separo dindingnya tembok.

BISA TERSENYUM: Samido dengan rumah barunya yang separo dindingnya tembok. (DWI SETIAWAN/ JAWA POS RADAR TUBAN)

WARGA Desa Brangkal, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jatim punya ''mimpi''. Puluhan kepala keluarga duafa berharap hidup layak.

Sementara ratusan warga lainnya yang mayoritas petani ingin meningkatkan taraf hidupnya dan sejahtera.

Sebagian ''mimpi'' itu kini terwujud setelah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-104 TA 2019 bersama masyarakat dan elemen lain merajut kebersamaan membangun desa setempat selama 30 hari (26 Februari-27 Maret). 

LANCAR: Para petani mengusung hasil pertaniannya melalui jalan usaha tani yang kini beraspal dan lebar.

LANCAR: Para petani mengusung hasil pertaniannya melalui jalan usaha tani yang kini beraspal dan lebar. (DWI SETIAWAN/ JAWA POS RADAR TUBAN)

Dulu, bangunan rumah Samido dan kandang sapi di barat tempat tinggalnya sulit dibedakan. Keduanya sama-sama berlantai tanah. Setiap kali hujan, air yang menerobos melalui genting yang bocor dan lubang-lubang dinding kayu melumerkan lantai tanahnya. Apalagi, ketika banjir besar yang menenggelamkan seluruh daratan di desanya, Brangkal, Kecamatan Parengan pada 23 Maret lalu. Lantai rumah itu berubah seperti tanah sawah. ''Lemahe kados (tanahnya seperti, Red) lumpur,'' ujar pria 71 tahun ini sambil memegang lututnya untuk menggambarkan tinggi air bah kala itu kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Bangunan rumah dan kandang sapi yang berimpitan ini juga seperti tanpa sekat. Dinding papan kayu yang memisahkan itu terkoyak. Kayunya yang lapuk termakan usia banyak yang keropos dan tanggal. Bau kotoran sapi gaduh milik tetangganya yang dipelihara Samido sejak tiga tahun terakhir itu pun tercium hingga dari dalam rumah berukuran 9x7 meter (m) tersebut.

Kondisi sisi dinding lainnya juga hampir sama. Tak tertutup rapatnya dinding menjadikan tak hanya air dan angin yang menerobos masuk. Kucing dan ayam peliharaan tetangganya juga sering blusukan. Keluar-masuk dan mengotori rumah.

Potret kemiskinan buruh tani yang hanya berpenghasilan Rp 50 ribu per hari selama musim tanam dan panen ini juga bisa dilihat dari perabot-perabot rumahnya yang reyot nan butut. Di ruang tamunya berukuran 9x5m hanya berisi 2 dipan, 1 meja panjang, dan 2 kursi. Sementara kamar sekaligus gudang hanya ditempatkan 1 dipan berkelambu kumal. Di ruang pengap tanpa ventilasi ini menumpuk empat karung plastik berisi gabah dan perkakas kayu.

Rumah ini juga tak memiliki satu pun lemari. Untuk menaruh 10 stel pakaian dan 7 sarung bersih dan kotornya,  duda yang tinggal sendiri ini menyampirkan pada seutas tampar yang terbentang di dalam kamar.

Saking melaratnya, tempat tinggal

Samido  tak memiliki aliran listrik sendiri. Nyala lampu di ruang tamu dan kamar setiap malam itu berkat kerelaan tetangganya yang menyalurkan setrum. Begitu juga untuk mandi dan buang air besar. Karena tak memiliki kamar mandi dan jamban sendiri, pria yang tak lulus sekolah rakyat (SR)  ini menumpang di rumah tetangganya. 

Kemiskinan penghuni rumah juga tergambar dari dapurnya yang masih menggunakan kayu bakar dengan peralatan memasak ala kadarnya.

Sejak TMMD ke-104 merehab bangunan rumah ini pada akhir Maret lalu, tempat tinggal Samido jauh lebih layak. Selain membangun dinding tembok rumah, TMMD juga memplester lantai, memperbaiki atap, membuatkan pintu dan jendela kayu, serta teras rumah.

Memiliki tempat tinggal layak huni adalah salah satu ''mimpi'' Samido dan puluhan warga duafa lain di Brangkal. Kemiskinan yang menjadikan mereka hanya bisa berangan-angan dengan keinginannya itu. Melalui program rehab rumah tak layak huni (RTLH) TMMD ke-104, TNI mewujudkan ''mimpi'' tersebut. Total RTLH yang dibedah 44 unit.

''Kulo remen sanget omah sampun sae didandosi (Saya senang sekali rumah sudah baik diperbaiki, Red),'' kata Samido dengan ekspresi berbunga-bunga. Kini, setiap hujan, dia tak kepikiran menampung dan menahan air yang trocoh dari atap maupun lubang dinding. Lantai pun tetap padat dan kering.

Empat puluh tiga RTLH lain di Brangkal yang direhab TMMD kondisinya juga kurang lebih sama. Rumah Kartini, 70, misalnya. Tempat hunian janda sebatang kara ini tak kalah parahnya. Bahkan, rumah berdinding kayu ini doyong ke depan (timur) setelah pilar-pilarnya keropos dimakan usia.      

Lantai tanahnya yang tidak dipadatkan juga selalu lembap selama penghujan.

Seperti halnya di rumah Samido dan warga papa lainnya, rehab rumah Kartini juga tanpa membangunkan kamar mandi dan jamban. Karena itu, setiap buang air besar dia masih mengungsi ke rumah tetangga. Sementara untuk mandi, Kartini hanya berlindung pada beberapa potong papan kayu yang ditancapkan di barat rumahnya. ''Nek saget nggih nyuwun WC dateng bapak-bapak tentara (Kalau boleh ya minta WC kepada bapak-bapak tentara, Red),'' tutur pria berkaus putih dan bercelana biru itu. Harapan yang sama juga disampaikan Samido dan warga lain penerima manfaat program bedah rumah.

Mereka tak canggung mengungkapkan isi hatinya kepada TNI. Tentang apa saja.  Semua disampaikan lepas. Tanpa beban.

Keberanian tersebut karena komunikasi mereka dengan anggota TNI tanpa sekat. Ya, kegiatan TMMD ke-104 yang mendekatkan mereka dengan masyarakat. Selama 30 hari operasi bakti TNI tersebut digelar, 150 personel dari Kodim 0811 Tuban, Brigif 16/WY, Yonif Mekanis 521/DY, Yonif Mekanis 512/QY, dan Yon Zipur 5/ABW diterjunkan dan  tinggal di rumah-rumah warga. Untuk menjadi bagian dari keluarga yang diikuti, mereka tidak hanya menyerahkan bekalnya berupa uang makan dari penanggung jawab operasional (PJO) Kepala Staf TNI Angkatan Darat sebesar Rp 43 ribu per personel per hari kepada pemilik rumah yang dihuni, namun juga disertai niat tulus dan ikhlas untuk mengabdi membangun desa setempat.

Selama tinggal di Brangkal, santap bareng prajurit dengan pemilik rumah dan warga lainnya menjadi pemandangan yang kerap dijumpai. Begitu juga ketika mengerjakan proyek prasarana TMMD, tanpa diminta, masyarakat berduyun-duyun membantu. Budaya gotong-royong pun terjalin.

Itulah yang menjadikan ikatan kekeluargaan para prajurit dengan  masyarakat setempat begitu kuat. Karena itulah pemandangan menyayat hati terhampar ketika pelepasan prajurit pada penutupan TMMD, Rabu (27/3). ''Banyak air mata berlinang. Banyak masyarakat yang berat melepas kepulangan para prajurit,'' ujar Pasiter Kodim 0811 Tuban Kapten Arh Sudiyono yang menyaksikan suasana haru-biru itu.

Bupati Tuban Fathul Huda pun memberikan apresiasi. Dikatakan dia, manunggal bersama rakyat tidak sekadar slogan TNI. Bukti nyata itu, kata dia, bisa dilihat pada TMMD ke-104.

Kegiatan TMMD juga mampu mengetuk kepedulian sejumlah elemen di Bumi Wali untuk memberikan perhatian ke Brangkal, desa banjir yang berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat kota kabupaten tersebut.

Terbukti, Pemkab Tuban menyokong dengan dana APBD-nya sebesar Rp 767.500.000 untuk membiayai sasaran pokok kegiatan tersebut berupa peningkatan jalan usaha tani sepanjang 1.300 meter.

Untuk membangun 1 unit MCK umum Rp 15 juta, membangun 1 unit pos kamling Rp 7,5juta, dan renovasi 3 unit RTLH Rp 45 juta, TMMD mendapat dukungan dana dari APBDes Brangkal.

Dukungan dana berikutnya dari Baznas Tuban Rp 50 juta dan corporate social responsibility (CSR) Bank Jatim Rp 200 juta. Dana tersebut untuk membangun sasaran tambahan. Dari Baznas untuk rehab 1 unit musala Rp 10 juta dan renovasi 4 unit RTLH Rp 40 juta. Sementara dana dari Bank Jatim untuk renovasi 20 unit RTLH.

Kucuran dana CSR BRI Cabang Tuban Rp 175 juta diplot untuk sasaran tambahan renovasi 17 unit RTLH.

JUT Membantu Ekonomi Petani

Sasaran pokok TTMD ke-104 berupa peningkatan jalan usaha tani (JUT) sepanjang 1.300m benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat Brangkal.

Agus Riyanto, kaur tata usaha dan umum desa setempat mengatakan, jalan yang ditingkatkan tersebut sebelumnya adalah pematang yang lebarnya tak lebih dari 0,5m. Hanya pejalan kaki, rojokoyo  (sapi) dan kambing yang biasa melintasinya.

Diungkapkan Agus, keinginan warga desa setempat untuk meningkatkan jalan tersebut sebelumnya juga hanya ''mimpi''. Hanya, untuk mewujudkan keinginan yang begitu kuat itu, warga sudah memulai dengan melebarkan pangkal pematang di sisi timur yang menghubungan dengan jalan kampung sejak sekitar sepuluh bulan terakhir. Total yang diuruk sepanjang 520m. Lebarnya sekitar 3m.

Pematang inilah yang menjadi cikal bakal dibangunnya JUT sepanjang 1.300m. Karena lebarnya 2,5 meter, pemilik lahan pada kedua sisi sepanjang JUT harus melepas lahannya sekitar 1,5m. ''Kita ikhlas. Saya justru berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang membangun jalan ini,'' ujar Siti Romlah, 45, salah satu pemilik lahan.

Setelah dikerjakan prajurit TNI bersama masyarakat, kini JUT beraspal tersebut bisa dilalui kendaraan bermotor, mulai sepeda motor, pikap, bahkan truk. Kini, untuk mengangkut hasil panen, pupuk, dan peralatan pertanian, petani tak perlu lagi melangsir atau mengusung. ''Dari sisi ekonomi, tentu ini sangat meningkatkan ekonomi petani karena biaya langsir tidaklah murah,'' imbuh perangkat desa 39 tahun itu.

Kepala Desa Brangkal Zaenal Muttaqin mengatakan, problem kemiskinan di desanya cukup pelik. Dari 798 kepala keluarga (KK), 190 KK di antaranya tergolong duafa. Karena itulah, kata dia, kegiatan rehab RTLH yang digelar TMMD sangat membantu masyarakat miskin untuk bisa tinggal di rumah yang layak huni.

Begitu juga pembangunan JUT. Dia berharap infrastruktur tersebut bisa meningkatkan hasil pertanian sekaligus kesejahteraan masyarakat. JUT, terang kades, juga merupakan jalan evakusi warga dan ternak menuju tempat penimbunan kayu (TPK) ketika banjir besar melanda Brangkal. ''Dari beragam kegiatan TNI bersama rakyat ini, kami harapkan bisa mengangkat taraf hidup masyarakat,'' ujar dia.

Perlu diketahui, selain pembangunan fisik, TMMD juga menggelar pengobatan masal, pelayanan KB, penyuluhan (peternakan, wawasan kebangsaan, kamtibmas, lalu lintas, pertanian, agama, narkoba, dan hukum), bimbingan mental, pelayanan kartu identitas anak (KIA), KTP, serta KK.

Mengapa TNI memilih Brangkal untuk lokasi TMMD? Dandim 0811 Tuban Letkol Inf Nur Wicahyanto mengatakan, Brangkal pada musim penghujan rutin menjadi langganan banjir akibat meluapnya Kali Kening, anak sungai Bengawan Solo. Kondisi inilah yang menjadikan Brangkal masuk dalam skala prioritas kegiatan bakti TNI tersebut.

Dandim menegaskan, program TMMD ke-104 menjadi bukti bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat sangat dekat dan kuat. ''Tidak kalah pentingnya melalui kegiatan ini, budaya gotong royong sebagai ciri khas Bangsa Indonesia tetap terjaga baik di masyarakat,'' ujar dia.

(bj/ds/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia