Selasa, 23 Jul 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban
Beromzet Rp 600 Juta Per Bulan

Dinasti Pabrik Arak Tegalagung Diruntuhkan

03 April 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TERSEMBUNYI: Bupati Tuban Fathul Huda bersama Kapolres Tuban AKPB Nanang Haryono dan jajaran petugas melihat langsung pabrik arak berskala besar yang beroperasi di bunker khusus.

TERSEMBUNYI: Bupati Tuban Fathul Huda bersama Kapolres Tuban AKPB Nanang Haryono dan jajaran petugas melihat langsung pabrik arak berskala besar yang beroperasi di bunker khusus. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TUBAN – Pengoperasian sebagian pabrik arak berskala besar di Tuban dikuasai sejumlah dinasti keluarga produsen secara turun-temurun. Sudah tak terhitung berapa kali petugas mengamankan produsen-produsen minuman keras (miras) yang masih satu keluarga. Terbaru, kemarin (2/4) petugas menggerebek pabrik arak raksasa beromzet Rp 600 juta per bulan di Dusun Kiringan, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.

Pabrik arak tersebut pantas disebut dinasti. Sebab, petugas sudah empat kali menggerebek lokasi yang sama. Pada penggerebekan pertama pada 2016, petugas mengamankan Pantun dan hanya dijerat tindak pidana ringan (tipiring) berupa denda. Setelah sidang tipiring, Pantun kembali beroperasi dan digerebek pada 2017. Lagi-lagi, aparat penegak hukum hanya menjerat tipiring.

Pada 2018, giliran Suwarni, adik Pantun yang melanjutkan bisnis haram tersebut. Dikatakan Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono yang memimpin penggerebekan, Suwarni hanya divonis tiga bulan penjara, namun tidak ditahan. Hingga awal 2019, pabrik yang sama kembali dioperasikan Suwarno, suami Suwarni.

Tempat produksi inilah yang kali keempat digerebek Polsek Semanding dan tim Macan Ronggolawe Satreskrim Polres Tuban kemarin (2/4).

Dalam penggerebekan tersebut ditemukan 7 kolam permanen yang berisi sekitar 3.200 liter baceman atau bahan baku arak, 3 tungku baja, belasan tabung gas elpiji bersubsidi 3 kilogram (kg), alat produksi lain, dan 30 liter arak siap edar yang dikemas dalam 16 botol. Berdasarkan keterangan petugas, pelaku baru saja mengirimkan ratusan botol arak untuk dipasarkan ke Surabaya dan sekitarnya.

TERSEMBUNYI: Bupati Tuban Fathul Huda bersama Kapolres Tuban AKPB Nanang Haryono dan jajaran petugas melihat langsung pabrik arak berskala besar yang beroperasi di bunker khusus.

TERSEMBUNYI: Bupati Tuban Fathul Huda bersama Kapolres Tuban AKPB Nanang Haryono dan jajaran petugas melihat langsung pabrik arak berskala besar yang beroperasi di bunker khusus. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Perwira kelahiran Kedungadem, Bojonegoro ini mengatakan, kapasitas produksi pabrik arak ini per hari sekitar 400 liter. Kalau per botol berukuran 1,5 liter dijual Rp 50 ribu, per hari Suwarno bisa meraup Rp 20 juta. Jika satu bulan penuh rutin produksi, dia bisa mendapatkan uang Rp 600 juta. 

Karena sudah berpengalaman, Suwarno benar-benar rapi menyembunyikan pabriknya. Dia membuat ruang bawah tanah seluas 3 x 2 meter (m) untuk menyimpan arak siap edar. Ruang bawah tanah tersebut terletak di bawah garasi. Akses masuknya hanya cukup seukuran tubuh orang dewasa. Sementara untuk wadah baceman, dia membuat ruang khusus dengan tujuh kolam permanen. ‘’Bisa dilihat, rumahnya sangat mewah. Ini semua dibangun dari hasil jual arak,’’ terang Nanang.

Pada penggerebekan keempat tersebut, Suwarno bernasib beda dengan dua anggota keluarganya yang hanya dijerat tipiring. Dia diringkus petugas dan langsung diborgol untuk ditahan di Polres Tuban. Jeratannya, pasal 204 ayat 1 KUHP dan pasal 140 jo pasal 86 ayat 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Ancaman hukuman maksimalnya 15 tahun penjara.

(bj/ds/yud/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia