Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Hotel Berbintang Untung, Melati Buntung

Online Travel Agent bagi Dunia Usaha Perhotelan

30 Maret 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AMIN FAUZIE/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

TUBAN - Bagi penggemar traveling atau pelancong yang sering keluar kota, Traveloka, Pegipegi, Airy Rooms, Booking.com, Agoda, tiket.com dan aplikasi serupa wajib terinstal di ponsel. Selain memudahkan penggunanya karena bisa menyewa kamar kapan saja dan di mana saja, aplikasi tersebut menguntungkan karena customer bisa mendapat harga yang jauh lebih murah.

Apalagi, sebagian besar hotel kini sudah terkoneksi langsung dengan aplikasi online tersebut.

Bendahara Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tuban Amin Jaya mengatakan, dari lima belas hotel di Tuban yang terdata PHRI, belum semuanya menjalin kerja sama dengan OTA. Sejauh ini yang bekerja sama dengan aplikasi booking online hanya hotel berbintang. Sebab, OTA sangat menguntungkan pihak hotel dengan terdongkraknya tingkat okupansi. ‘’Kalau semua hotel berbintang sudah kerja sama dengan OTA, kalau yang melati kami belum mendata,’’ ujar dia.

Pria yang juga pimpinan salah satu hotel di Tuban ini menjelaskan, sistem kontrak kerja sama hotel dengan OTA kurang menguntungkan hotel melati. Sebab, aplikasi booking tersebut dipastikan selalu minta harga di bawah rate atau yang sudah dibanderol. Biasanya, OTA meminta hotel mengurangi harga mulai 10 hingga 20 persen dari daftar harga. Diskon tersebut dimanfaatkan aplikasi travel online untuk memberikan promo harga yang lebih murah ke customer.

Sehingga, customer bisa mendapat harga yang lebih murah daripada booking langsung di lokasi. Untuk potongan harga, kata Amin, setiap hotel memiliki kebijakan berbeda. Biasanya, potongan harga disepakati sesuai musim tertentu. Misalnya, jika hari kerja, OTA dan hotel bisa memberi potongan harga besar dibanding ketika musim liburan. ‘’Dari perjanjian itu, makanya customer yang booking melalui aplikasi bisa mendapat harga yang lebih murah hingga 10 persen,’’ tambah Amin.

Misalnya, tarif booking hotel per kamar ditetapkan Rp 500 ribu. Dan, disepakati pihak OTA meminta potongan harga hingga 20 persen atau sebesar Rp 100 ribu. Nah, dari total diskon Rp 100 ribu itu, pihak aplikasi OTA memberi diskon untuk customer online hanya Rp 50 ribu – Rp 80 ribu. Selisih potongan harga dari hotel terhadap OTA tersebut menjadi pemasukan bagi pihak pengelola aplikasi. ‘’Pajak sudah diatur manajemen aplikasi online itu,’’ tambah Amin.

Dengan perjanjian tersebut, otomatis pihak hotel harus siap mengurangi laba mereka demi memenuhi syarat kerja sama. Pengurangan laba berbeda berdasar proses negosiasi antara pihak hotel dengan manajemen OTA. Fasilitas dan jarak ke pusat keramaian menjadi salah satu pertimbangan kerja sama dua pihak tersebut. ‘’Secara laba memang hotel mendapat lebih sedikit dari aplikasi online, tapi intensitas dapatnya lebih sering,’’ jelas Amin.

Pria yang tinggal di Perumnas Tasikmadu ini mengatakan, bagi hotel berbintang tentu bukan menjadi masalah berat jika harus mengurangi laba. Namun, bagi hotel melati, pemotongan laba menjadi syarat cukup berat. Mengingat laba dari hotel melati tidak banyak. Sehingga, sejumlah hotel melati masih enggan kerja sama dengan OTA dan memilih mencari tamu dari jalur offline. ‘’Pihak hotel diuntungkan karena bisa promosi dengan aplikasi yang gratis itu,’’ imbuh Amin.

Seiring berkembangnya zaman, OTA bukan lagi hal mewah. Banyak hotel melati, guest house, homestay, hingga rumah kos yang mulai melirik sistem kerja sama dengan aplikasi berbasis smartphone tersebut. Sebab, pihak pemilik hunian diuntungkan dengan brand besar aplikasi tersebut. Risikonya, pemboking hotel offline yang gaptek harus siap-siap merogoh kocek dalam. Sebab, harga yang dibanderol offline dipastikan lebih mahal.

Sebab, pengelola hunian dipastikan akan menaikkan rate harga untuk mengimbangi potongan laba ditetapkan OTA. ‘’Zaman sekarang ini kalau hotel tidak kerja sama dengan aplikasi travel ya bisa kalah bersaing,’’ ujar pria yang juga direktur badan usaha milik daerah (BUMD) di Tuban itu.

(bj/yud/ds/yan/min/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia