Rabu, 22 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Melihat Bus Sekolah Mini Kecamatan Sugihwaras

Biaya Urunan, Mencegah Siswa SMP Bermotor

Oleh: M. NURKOZIM

27 Maret 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ANGKUTAN SISWA: Bus sekolah ini dibuat dari pikap. Biayanya dari urunan para guru.

ANGKUTAN SISWA: Bus sekolah ini dibuat dari pikap. Biayanya dari urunan para guru. (MOCHAMAD NURKOZIM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BANYAK anak sekolah kini mengendarai motor. Bahkan, siswa SMP juga tidak sedikit yang naik motor. Guna mencegah itu, sejumlah guru SMP di Kecamatan Sugihwaras membuat bus sekolah.

Sejumlah siswa duduk rapi di dalam sebuah bus bercat kuning merah. Bukan mau berwisata, para siswa itu ingin pulang ke rumah. Bus adalah moda transportasi baru para siswa di Kecamatan Sugihwaras saat berangkat dan pulang sekolah.

Pembuatan bus sekolah ini terpaksa dilakukan karena banyaknya pelajar naik motor. Tidak di desa atau di kota. Semua sama. Bahkan, lebih parah di kawasan pedesaan, siswa SD hingga SMP banyak yang naik motor.

Padahal, secara usia mereka belum diperbolehkan naik kendaraan bermotor. Surat izin mengemudi (SIM) juga belum memiliki.

“Ini upaya yang bisa kami lakukan. Kalau kami hanya melarang saja tidak akan efektif,” kata Moestofa, Kepala SMPN 2 Sugihwaras.

Menurut Moestofa, sudah lama melarang siswa mengendarai motor sendiri. Namun, banyak yang tidak menghiraukan. Bahkan, mereka mengendarai motor tanpa pakai helm. Kondisi itu, didukung dengan tidak adanya perhatian khusus dari orang tua. Sehingga, siswa SMP yang membawa motor tetap banyak.

“Saya dan para guru akhirnya mencari jalan keluar. Lalu tercetuslah ide membuat bus sekolah,” jelasnya. Dia memastikan, bus itu tidak melayani banyak sekolah.

Bus sekolah itu, sebenarnya bukan bus asli. Itu adalah pikap yang dimodifikasi dan didesain menjadi bus. Sebab, jika membeli bus asli dari pabrikan, sekolah merasa tidak mampu. Harganya kelewat mahal. Bahkan, harga bus itu bisa membangun beberapa ruang kelas.

“Jadi, kami membuat bus ini dengan anggaran seadanya,” ujarnya.

Dia menuturkan, pikap itu hanya diambil sasisnya saja. Bodi bus dibuatkan sendiri di sebuah bengkel. Sekitar 4 bulan, akhirnya bus itu jadi. Diberi cat kuning merah, agar  bus mini itu mirip dengan angkutan sekolah di Amerika Serikat.

Kini, para siswa yang rumahnya jauh dari sekolah tidak perlu naik motor. Mereka akan diantar jemput ke sekolah menggunakan bus itu. “Bus ini hanya beroperasi di wilayah Sugihwaras saja. Karena siswa kami hanya di sekitar sini saja,” jelasnya.

Bus itu bisa memuat 31 siswa. Untuk memperoleh fasilitas bus itu pulang pergi, siswa hanya perlu membayar Rp 2.000 per hari. Dalam sehari bus bisa 2 sampai 3 kali mengantarkan siswa. Pulang pergi (PP).

“Inovasi ini cukup efektif untuk menekan siswa agar tidak naik mengendarai motor,” jelasnya.

Bus itu, baru beroperasi sekitar 8 bulan ini. Anggaran pembuatan bus itu didapatkan dari urunan para guru. Sebab, tidak ada anggaran untuk pengadaan bus sekolah itu. “Kita cari dana sendiri. Caranya ya iuran antarguru,” jelasnya.

(bj/zim/rij/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia