Selasa, 16 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Berdampak Harga Gabah Petani Terus Anjlok

Ironis, Produksi Tinggi, Serapan Bulog Malah Turun

26 Maret 2019, 11: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PRODUKSI TINGGI: Alat modern banyak dimanfaatkan untuk pertanian di Lamongan, dengan penerapan modernisasi pertanian, sehingga produksi padi maupun jagung sangat tinggi. Namun sayang, penyerapan hasil panen petani dari bulog rendah, sehingga harga jual se

PRODUKSI TINGGI: Alat modern banyak dimanfaatkan untuk pertanian di Lamongan, dengan penerapan modernisasi pertanian, sehingga produksi padi maupun jagung sangat tinggi. Namun sayang, penyerapan hasil panen petani dari bulog rendah, sehingga harga jual se (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN – Keberpihakan pemerintah melalui Bulog terhadap petani Lamongan dipertanyakan. Produksi padi petani Lamongan terus meningkat dan yang tertinggi di Jawa Timur. Ironisnya, penyerapan gabah/beras petani oleh Bulog justru terus menurun setiap tahun.

Kondisi ini dikhawatirkan Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Lamongan, Rudjito. ‘’Kondisi itu membuat harga gabah petani selalu anjlok karena sulit dijaga saat panen raya tiba,’’ terangnya saat mendampingi Bupati Lamongan, Fadeli menerima kunjungan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot S Irianto di Guest House Pemkab Lamongan, Minggu petang lalu (25/3).

Menurut Rudjito, produksi gabah kering giling (GKG) petani Lamongan mencapai 1 Juta ton lebih per tahun. Dan tahun ini, sampai Februari lalu sudah 8.857 hektare lahan komoditi padi yang dipanen. Dan akan terus meningkat memasuki bulan ini. ‘’Kalau penyerapan hasil panen petani minim, turunnya harga gabah seperti panen sebelumnya akan terus terjadi,’’ tukasnya.

Wakil Kepala Bulog Subdivre Bojonegoro, M Yandra Darajat yang hadir dalam kesempatan itu mengakui, Bulog baru menyerap 230 Ton gabah petani Lamongan hingga kemarin. Namun dia mengklaim, serapan gabah itu tertinggi dibanding dua daerah tetangga, Bojonegoro dan Tuban. “Serapan dari Lamongan sebesar 230 ton. Ini masih yang tertinggi dibandingkan dua kabupaten lain di wilayah (Bulog) Subdivre Bojonegoro, meski belum signifikan. Lamongan juga masih menjadi andalan Subdivre Bojonegoro untuk pengadaan beras dan gabah,” kalimnya.

Sementara Gatot S Irianto yang hadir bersama Direktur Pasca Panen Gatut Sumbogodjati berharap Bulog bisa maksimal menyerap gabah petani dengan harga sesuai kualitas gabah atau beras. “Saya ingin, ketika harga turun, pemerintah hadir, dan Bulog membeli sesuai kualitas. Jadi jangan dituntut membeli dengan harga tidak sesuai kualitas. Kata orang, rego nggowo rupo, harga sesuai dengan kualitas,” tukasnya.

Berdasarkan data Pemkab Lamongan, sejak 2014 serapan Bulog Subdivre Bojonegoro terhadap produksi padi Lamongan terus turun. Pada 2014 sebesar 40.137, 645 Ton setara beras. Kemudian 2015 turun menjadi drastis menjadi 32.001,235 Ton. Selanjutnya turun lagi menjadi 28.637,069 Ton pada 2016 dan lagi-lagi turun menjadi 25.875,615 Ton pada 2017. Tahun lalu (2018) juga turun lagi menjadi 25.035,980 Ton.

Bahkan tahun ini (2019) Bulog Subdivre Bojonegoro hanya menargetkan menyerap 15.705,420 Ton melalui dua gudangnya di Lamongan, yakni di Gudang Bulog Baru (GBB) Karangkembang dan Sukorejo.

(bj/ind/feb/yan/jar/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia