Selasa, 20 Aug 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Fenomena Equinox Sudah Biasa

26 Maret 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PERALIHAN MUSIM: Seorang warga melintas di jalan desa yang tertutup kabut.

PERALIHAN MUSIM: Seorang warga melintas di jalan desa yang tertutup kabut. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Fenomena equinox sempat membuat warga khawatir karena menyebabkan peningkatan suhu ekstrem bisa memicu sun stroke dan dehidrasi. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menyatakan equinox merupakan fenomena biasa. Kekhawatiran ini setelah banyak beredar pesan berantai di WhatsApp terkait kemunculan fenomena equinox.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro Nadif Ulfia mengatakan, fenomena equinox sudah pasti normal terjadi tiap tahunnya. Karena lokasi Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa. Merujuk informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), equinox tidak sampai menyebabkan sun stroke.

Karena saat fenomena ini berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat. Sehingga wilayah tropis di sekitar ekuator (khatulistiwa) mendapatkan penyinaran matahari maksimum. Namun fenomena ini tak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem. Dan sepekan ini, suhu udara ketika siang puncaknya sekitar 33 derajat celsius.

Perempuan akrab disapa Ulfia itu juga menambahkan, prediksi BMKG awal musim kemarau sekitar 10 hari akhir April nanti. Ia menyebutkan saat ini belum memasuki masa pancaroba. Namun, curah hujan memang cukup menurun dibanding bulan lalu.

“Meski curah hujan turun, masyarakat harus tetap waspada karena biasanya hujan mendadak disertai angin kencang,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah mengatakan, bahwa banyak minum air putih dan makan buah harus diterapkan tak hanya saat musim kemarau saja, musim hujan juga harus diterapkan.

Penyakit-penyakit yang rentan menyerang musim hujan dan kemarau ialah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “Kalau tidak ingin terserang penyakit, saat di luar rumah sebaiknya pakai masker,” jelasnya.

(bj/gas/aam/cho/rij/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia