Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Desak Bupati Perhatikan Bahasa Jawa

26 Maret 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ilustrasi

ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO - Para akademisi serta praktisi bahasa Jawa berharap agar bupati dan Pemkab Bojonegoro mulai memberi perhatian terhadap bahasa Jawa. Tentunya pada kelestarian penggunaan bahasa Jawa khususnya generasi milenial. Sebab, kemampuan mereka dalam menuturkan bahasa Jawa masih memprihatinkan.

Sehingga perlu adanya keseriusan orang nomor satu di Bojonegoro untuk kembali memberlakukan bahasa Jawa pada lingkungan sekolah. Teknisnya lebih kepada menerapkan hari khusus untuk menggunakan bahasa ibu tersebut.

Menurut salah satu akademisi bahasa Jawa, Emi Sudarwati mengatakan, seharusnya setiap Kamis ada penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah. Program tersebut sempat berjalan sekejap, namun sekarang tak lagi terlaksana.

“Tapi sampai sekarang sudah tidak berjalan. Mungkin di Bojonegoro tidak ada dan juga menerapkan instruksi seperti itu,” kata dia.

Melihat kondisi ini, dia berharap, agar bupati dan pemkab mulai memperhatikan. Sebab, orang nomor satu tentu memiliki kemampuan dan kekuatan untuk dapat mengatasinya. Terlebih memberikan arahan kepada masyarakat dan stakeholder.

“Paling tidak sangat perlu mengeluarkan surat keputusan (SK) yang diberikan kepada setiap lembaga sekolah. Kalau tidak ada itu, program tersebut tidak akan berjalan lagi,” ucap dia.

Dia menambahkan, permasalahan minimnya penggunaan bahasa Jawa bermula dari keluarga dan lingkungan. Karena bahasa Jawa adalah bahasa ibu, sehingga akan terpupuk dan berawal dari rumah.

“Ketika diajarkan di sekolah hanya akan menjadi sebuah mata pelajaran saja. Dan anak-anak sebenarnya sudah tergolong bisa dan mampu,” imbuh dia.

Namun, lanjut dia, secara praktik atau berbicara, pelajar masih dihinggapi rasa canggung dan sebagainya. Sebab, mereka juga telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia ataupun campuran. Tak jarang pula terjadi kesalahan penggunaannya.

“Saat salah, mereka juga sering saya ingatkan. Namun yang terpenting dari hal ini adalah kemauan mereka untuk belajar dan melestarikan,” ucap dia.

Sementara itu, pegiat PSJB Bojonegoro JFX Hoery menambahkan, pada periode kepemimpian bupati sebelumnya ada rencana menggunakan bahasa Jawa untuk seluruh sekolah dan dinas sehari dalam seminggu.

“Namun kelihatannya juga belum berjalan secara berkala. Ditambah lagi sampai sekarang rencana tersebut belum terealisasi,” jelas dia.

Menurut dia, seharusnya bupati dan Pemkab Bojonegoro mulai memperhatikan permasalahan ini. Sebab, permasalahan ini dapat teratasi jika ada instruksi dari pemkab untuk lembaga sekolah dan masyarakat.

“Sehingga perlu koordinasi semua pihak untuk dapat mendongkrak bahasa Jawa agar lebih baik,” tutur dia.

Selain itu, imbuh dia, sebenarnya sudah ada permintaan dari Balai Bahasa Jawa di Jawa Timur. Yakni diadakan pembukaan menggunakan bahasa Jawa selama 15 menit. Setelahnya, baru memulai materi pelajaran.

“Sepertinya instruksi tersebut juga belum berjalan. Kalaupun berjalan ya belum maksimal,” imbuh dia.

(bj/dny/aam/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia