Selasa, 23 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Kesadaran Pengusaha SPBU Mini Masih Rendah

25 Maret 2019, 10: 55: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SOSIALISASI: Petugas saat mensosialisasikan penggunaan APAR untuk SPBU mini.

SOSIALISASI: Petugas saat mensosialisasikan penggunaan APAR untuk SPBU mini. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO - Tingkat kesadaran para pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mini terhadap keselamatan dan keamanan alat masih sangat rendah. Menurut Ketua Paguyuban Penjual Bensin Eceran Bojonegoro (Papan Bejo) Heriyanto, kejadian kebakaran yang terjadi di Desa Pengkol Kecamatan Tambakrejo kemarin (24/3) harus dijadikan atensi bersama.

“Karena saya melihat jumlah produsen alat SPBU mini ini sudah menjamur, terkadang mereka ini hanya cari untung saja, begitu pun pembeli alatnya hanya cari murahnya saja, tapi tidak perhatikan keamanan dan keselamatannya,” tuturnya.

Dia pun telah menelusuri korban kebakaran tersebut, ia mengatakan korban tidak tergabung dalam Papan Bejo. Dia melihat penyebab kebakaran tersebut karena memindahkan bensin menggunakan pompa mesin secara serampangan. Sehingga, ketika ada percikan api langsung menyambar ke dalam drum penyimpanan bensin.

“Awalnya saya kira konsumen saya dan anggota Papan Bejo, tetapi ternyata bukan. Sebab, konsumen saya pasti tidak akan memindah bensin menggunakan pompa mesin, karena kami punya alat hisap untuk memindahkannya,” katanya.

Selain itu, pengadaan APAR selalu ia sosialisasikan kepada anggotanya. Pun setelah satu tahun pemakaian, dia juga meninjau kembali ke lapangan untuk mengecek apakah ada kerusakan alat atau tidak. Jadi, saran dia kepada para pengusaha SPBU mini agar tidak asal cari alat dengan harga yang murah saja. Tetapi juga melihat kualitas alat tersebut.

“Beda harga tentu beda kualitas, jangan anggap semua alat SPBU mini itu pasti aman, karena banyak produsen yang asal jual saja,” tegas pria asal Desa Kepoh Kecamatan Kapohbaru itu.

Hal yang juga ia sayangkan ialah tidak adanya pengawasan dari pemerintah terkait standardisasi SPBU mini. Meskipun belum ada regulasi khusus yang mengatur SPBU mini, setidaknya dinas terkait seperti Dinas Perdagangan melakukan pembinaan. Karena jumlah SPBU mini sangat menjamur. TIdak menutup kemungkinan ada risiko-risiko lain yang mengintai.

“Kalau dipantau, ditinjau, dan dibina kan kami sebagai pengusaha SPBU mini lebih nyaman, pun terkait risiko seperti penimbunan bensin bisa diawasi dan juga uji tera agar konsumen terlindungi,” terangnya.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro Agus Haryana, pihaknya belum memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan atau penindakan terhadap SPBU mini. Karena hingga sekarang, status keberadaan SPBU mini masih ilegal alias tidak berizin. Agus mengatakan hanya sebatas melakukan pendataan saja untuk mengetahui peta perkembangannya.

“Kami tentu menunggu regulasi dari pusat terkait menangani SPBU mini tersebut, karena memang sudah menjamur, tapi kami tidak punya kewenangan apapun,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Ali Mahmudi menuturkan, bahwa memang keberadaan SPBU mini ini belum ada penanggungjawabnya. Tetapi, meskipun ilegal, keberadaan SPBU mini di tengah masyarakat juga dibutuhkan. Sehingga, dalam hal ini, ia ingiin DInas Perdagangan dan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja melakukan pembinaan dan sosialisasi. Jadi, tidak hanya disalah-salahkan saja.

“SPBU mini kan memang riil dibutuhkan masyarakat yang rumahnya mungkin jauh dari SPBU resmi, jadi ada baiknya kalau dinas terkait lakukan pembinaan agar bisa melindungi dan menghindari kejadian kebakaran itu terjadi lagi,” pungkasnya.

(bj/gas/cho/aam/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia