Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Sugeng Cahyono, Pegiat Seni Sketsa Wajah

Pernah Hanya Dibayar 50 Persen oleh Pemesan

Oleh: MUHDANY Y. LAKSONO

24 Maret 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PEGIAT SENI: Sugeng ketika membuat sketsa wajah. Kini dia fokus seni sketsa karena bisa memberikan arti. Semakin serius karena belajar secara otodidak.

PEGIAT SENI: Sugeng ketika membuat sketsa wajah. Kini dia fokus seni sketsa karena bisa memberikan arti. Semakin serius karena belajar secara otodidak. (MUHDANY YUSUF LAKSONO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BERMODAL paket internet malam, Sugeng belajar otodidak melalui tutorial YouTube. Bertahan berbagai kritikan dan kendala melukis sketsa. Karyanya telah melanglang buana sampai keluar pulau.

Dunia seni lukis atau rupa memiliki jenis dan output beragam. Salah satunya sketsa wajah. Membutuhkan ketelitian dan kemiripan dengan objek menjadi ketertarikan dan tantangan yang menarik. Terutama dijalani Sugeng Cahyono.

Pemuda berdomisili di Desa Kalirejo, Kecamatan Kota ini, merupakan pegiat seni lukis dengan ragam sketsa wajah. Dia juga tergabung dalam komunitas Line Art Bojonegoro (LAB). Kebetulan siang itu di sebuah warung kopi, Jawa Pos Radar Bojonegoro dapat berbincang dengannya.

‘’Saya sejak TK sudah suka menggambar. Sering coret-coret di kertas. Menggambar di pasir, dan tidak bisa diam kalau di dekat saya ada spidol,” ucapnya.

Sejak dini, menggambar merupakan aktivitas menghibur. Meski hasil coretannya tergolong abstrak, hal ini menyenangkan untuk mengekspresikan emosi. Saat duduk di bangku SMP dan SMA menjadi titik mula kegemarannya sketsa wajah.

Sugeng kerap mengikuti perlombaan seperti lukis batik dan kriya. Dan, kerap menjuarainya. ‘’Saya dulu belum mengenal sketsa wajah. Berawal dari banyak kegiatan itu saya jadi tertarik belajar seni rupa, khususnya sketsa wajah,” jelas mahasiswa Universitas Bojonegoro itu.

Menurut dia, sketsa wajah sangat menantang. Membutuhkan ketelitian, detil dan kemiripan dengan objek digores. Adapun dia banyak belajar tentang kemiripan objek, gelap terang pada wajah, dan juga proprosi muka.

‘’Saya belajar otodidak via YouTube. Saya memanfaatkan paket internet malam karena lebih murah,” jelas pemuda 22 tahun itu.

Setelah belajar dan membuat karya rerata objek artis Indonesia, Sugeng pun memostingnya ke Facebook. Tak pelak hal tersebut dilihat oleh adik kelas dan memintanya untuk membuatkan sketsa wajah.

‘’Meski hanya diberi imbalan Rp 15 ribu, saya senang. Gara-gara itu saya mulai berpikir terjun dan serius sketsa wajah,” jelas dia.

Setamat SMA, Sugeng memberanikan diri. Memanfaatkan beragam media sosial, dia kerap menerima pesanan. Bahkan sebulan bisa mencapai 10 kali. ‘’Pesanan ada banyak yang keluar kota. Bahkan ada juga pesanan dari luar pulau, seperti Bangka Belitung,” kata dia.

Sugeng mampu menyelesaikan pesanan sketsa wajah dalam sehari. Namun, tak jarang dia juga membutuhkan waktu yang lebih lama. ‘’Kalau sekarang tiga hari selesai. Tapi semua tergantung mood,” ucap dia.

Namun, hidup memang tak semulus apa yang diinginkan. Dia kerap mengalami asam, manis, pahit ketika melukis. Kritikan hingga harapan palsu dari konsumen pernah Sugeng rasakan. ‘’Saya pernah dibayar hanya 50 persen. Gara-gara yang pesan putus cinta. Ceritanya memang pesan untuk anniversary pacaran dan kebetulan ordernya sebelum putus,” ungkap dia.

Sementara itu, dia kerap kesulitan mengatur waktu. Jam kuliahnya juga masih padat. Sehingga diapun kerap begadang untuk menyelesaikan pesanan. Selain mengandalkan tutorial YouTube, Sugeng kerap meminta masukan teman-temannya di LAB dan kampus. ‘’Selain itu keluarga juga memotivasi apa yang saya geluti,’’ jelasnya.

(bj/dny/yan/rij/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia