Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Tahun Ini Fokus Normalisasi Embung

23 Maret 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DIUTAMAKAN: Embung menjadi fokus untuk dilakukan normalisasi. Alasannya, tahun ini tidak banyak permintaan pembangunan embung.

DIUTAMAKAN: Embung menjadi fokus untuk dilakukan normalisasi. Alasannya, tahun ini tidak banyak permintaan pembangunan embung. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO — Pemkab Bojonegoro tahun ini akan lebih fokus pada normalisasi embung. Sebab, tahun ini jumlah  permintaan pembuatan embung baru tidak banyak.

“Kita fokus normalisasi saja,” jelas Kabid Air Baku Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sumber Daya Air.

Iwan menjelaskan, tahun ini embung yang akan dinormalisasi tidak banyak. Hanya 35 unit. Namun, sebagian dari jumlah itu ada yang membangun baru. Jumlahnya tidak sampai 10 unit.

Iwan melanjutkan, fokus normalisasi karena banyak embung sudah mengalami sedimentasi. Sehingga,  daya tampung waduk tersebut menyusut drastis. Sedimentasi itu disebabkan karena longsoran tanggul embung. Karena sudah sangat lama. Lima tahun ini.

“Jadi, sudah saatnya dinormalisasi,” jelasnya.

Dikatakan Iwan, saat ini proses normalisasi sejumlah embung sudah berlangsung. Prosesnya tidak lama. Hanya 5 sampai 7 hari sudah selesai. Sehingga, bisa selesai lebih cepat.

Embung dibangun di sejumlah lahan milik desa. Namun, sebagian ada yang dibangun di lahan milik Perhutani. Sebab, desa tidak memiliki lahan yang cukup.

“Lahan memang menjadi kendala untuk membangun embung,” jelasnya.

Iwan menjelaskan, target awal pemkab akan membangun 1.000 embung selama 5 tahun. Namun, hingga 5 tahun baru ada 500-an embung yang selesai dibangun. Itu disebabkan karena minim pengajuan dari desa.

Iwan menuturkan, embung dibangun karena ada permintaan dari pemdes. Jika pemdes tidak mengajukan, maka tidak akan membuat embung.

Pembangunan embung di lahan desa itu membuat pengelolaan juga diserahkan pada desa. Bisa dijadikan irigasi atau dijadikan sarana wisata. Namun, embung itu dibuat agar ada tanah resapan air. Terutama di wilayah yang kerap kekeringan saat kemarau.

(bj/zim/aam/cho/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia