Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Tiga Tahun, Ada 1.625 ODGJ se-Bojonegoro

Balen dan Padangan Orang Gangguan Jiwa Terbanyak

23 Maret 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DIREHABILITASI: Penderita gangguan jiwa akan dibawa untuk direhabilitasi. Tiap tahunnya mengalami kenaikan.

DIREHABILITASI: Penderita gangguan jiwa akan dibawa untuk direhabilitasi. Tiap tahunnya mengalami kenaikan. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO — Jumlah penderita gangguan jiwa tiap tahunnya mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, pada 2016 sebanyak 928 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), pada 2017 sebanyak 1.247 orang, dan pada 2018 sebanyak 1.625 orang.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Penyakit Tidak Menular Dinkes Bojonegoro Kun Sucahyono, kategorinya sudah masuk ODGJ berat.

“ODGJ berat ini seperti bicara sendiri atau mungkin gaduh gelisah, tetapi tidak dipasung,” tuturnya.

Apabila dibuat peringkat, lima teratas dengan jumlah ODGJ terbanyak di antaranya Kecamatan Balen sebanyak 105 orang, Kecamatan Padangan 86 orang, Kecamatan Trucuk 81 orang, Kecamatan Ngraho 77 orang, dan Kecamatan Malo 72 orang.

Penyebab gangguan jiwanya sangat beragam, tapi didominasi seputar masalah keluarga.

“Masalah keluarga seperti ditinggal pergi suami atau istri, ekonomi keluarga, dan sebagainya,” katanya.

Menurutnya, ada kemungkinan jumlahnya lebih dari 1.625 orang, karena data temuan tersebut berdasarkan data pasien puskesmas dan petugas polindes. Bisa saja, ada keluarga yang tidak membawa ke puskesmas untuk memeriksakan anggota keluarganya yang gangguan jiwa tersebut. Selain itu, masih ada 25 ODGJ yang masih dipasung.

“Kami upayakan tahun ini bisa bebas pasung, karena memang butuh dinas-dinas terkait untuk mengentaskan masalah ini, kalau dinkes saja itu berat,” tuturnya.

Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Bojonegoro Totok Ismanto juga menambahkan, bahwa sejak 2017 lalu di 36 puskesmas se-Bojonegoro sudah bisa melayani perawatan terkait masalah kejiwaan.

Sehingga, apabila ada masyarakat yang menderita masalah kejiwaan bisa langsung ke puskesmas untuk mendapat pelayanan dan obat.

“Kalau lebih fokus lagi di Puskesmas Jiwa Kalitidu, di sana ada 10 kamar khusus untuk melayani perawatan masalah kejiwaan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro Dwi Harningsih mengatakan, bahwa tahun ini akan dibangun penampungan untuk ODGJ, maupun anak jalanan, di Jalan Basuki Rahmat (samping kantor bea cukai).

Dia akui memang jumlah ODGJ itu banyak, tapi yang jadi fokus dinsos ialah ODGJ yang telantar.

“Kami menampung yang telantar, kalau masih punya keluarga tentu kami prioritaskan kembali ke keluarganya,” jelasnya.

Selama ini, karena tidak memiliki tempat penampungan, Dinsos Bojonegoro kerap menyalurkan anak jalanan atau lansia telantar ke penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Sidoarjo. Sedangkan eks ODGJ atau psikotik disalurkan UPTD Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik yang di Kediri atau Caruban, Madiun.

“Mereka disalurkan untuk mendapat pelatihan, sehingga pada nantinya diharapkan dengan keterampilan-keterampilan yang dimiliki bisa kembali bermasyarakat dengan baik,” pungkasnya.

(bj/gas/aam/cho/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia