Selasa, 20 Aug 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Kentang Hitam dan Kenikir sebagai Ekstrak

Beli Sel Kanker Rp 2,5 Juta untuk Dikembangkan

Oleh: RIKA RATMAWATI

23 Maret 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DAPAT PENGHARGAAN: M Nizar Sholahuddin Nugraha dan Ahmad Zhoriv Ramadhan meneliti kentang hitam dan kenikir sebagai ekstrak pembunuh sel kanker.

DAPAT PENGHARGAAN: M Nizar Sholahuddin Nugraha dan Ahmad Zhoriv Ramadhan meneliti kentang hitam dan kenikir sebagai ekstrak pembunuh sel kanker. (RIKA RATMAWATI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

Laboratorium Universitas Katolik Widya Mandala dan Fakultas Kedokteran Unair Surabaya menjadi saksi hasil uji kulit kentang hitam dan kenikir menjadi ekstrak pembunuh sel kanker. Karya M Nizar Sholahuddin Nugraha dan Ahmad Zhoriv Ramadhan itu mendapat pengakuan nasional.

Wajah malu - malu diperlihatkan Nizar dan Zhoriv saat dipanggil untuk sesi wawancara.  Setelah dibantu pembimbingnya, keduanya menceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang ekstrak kentang hitam dan kenikir.

Informasi awal tentang  manfaat kentang hitam dan kenikir didapatkan dari jurnal. Materi itu diajukan ke pembinanya untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. “Kita sebenarnya takut tapi harus dimulai sejak sekarang,” ujar Nizar pelajar asal Kecamatan Sukodadi tersebut.

Karya ilmiah tersebut diberi judul “KENTAKIR” singkatan dari kentang hitam dan kenikir. Keduanya memulai penelitian sejak enam bulan lalu. Jurnal yang dibacanya tidak lantas memudahkan proses penelitian. Banyak kendala ditemukan untuk membuktikan jurnal tersebut. Penelitian semakin lama karena keduanya pelajar jenjang SMA/MA. Butuh ada pendampingan khusus dari perguruan tinggi.

Pilihan kentang hitam dan daun kenikir ini jatuh karena ketersediaan dua bahan baku cukup mudah. Daun kenikir mengandung flavonoid golongan glokosida quersetin. Sedangkan kentang hitam mengandung orsolat dan olealolet. Keduanya diduga bisa menghambat proliferasi dan apoptosis sel HeLa (sel leher rahim).

Karena referensi tersebut, kedua pelajar itu tertarik melanjutkan penelitiannya. Pembuatan ekstrak kentakir dilakukan di laboratorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Sementara penelitian sel HeLa diuji di MTT laboratorium STEM Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. “Pembahasan dan penelitian ini membutuhkan waktu sangat lama, apalagi bertepatan dengan UAS,” ujar Zhoriv.

Selama penelitian, kedua pelajar harus pulang melebihi jam belajar. Indonesian Sains Projects Olympiad (ISPO) merupakan kejuaraan bergengsi untuk KTI. Penelitian yang disuguhkan harus benar-benar terbukti.

Tahap awalnya, penelitian pembuatan ekstrak. Kemudian dilanjutkan membangun sel kanker atau perkembangan sel kanker. Sel kanker dibeli Rp 2,5 juta untuk dikembangkan. Sekitar empat hari, sel kanker bisa berkembang. Namun, belum maksimal karena pengembangannya butuh waktu lama.

Langkah berikutnya, meracik ekstrak kenikir 3,125 mikrogram dengan 800 mikrogram kentang hitam. Bahan disuntikkan ke sel kanker. Setelah diuji menggunakan mikroskop, dari 100 persen sel kanker, hanya 42 persen yang masih hidup. “Ini berarti penelitian ini bisa menghambat pertumbuhan sel kanker,” jelasnya.  

Karya dua pelajar MAN 1 Lamongan tersebut berhasil meraih perunggu pada ISPO, Februari lalu. Penelitian itu menjadi awal dari pembelajaran selanjutnya.  Penghargaan itu memacu semangat keduanya untuk belajar lebih baik lagi. Apalagi, selama proses lomba kedua pelajar ini diwajibkan mempresentasikan hasil penelitiannya menggunakan bahasa Inggris.

(bj/rka/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia