Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Siswa Kelas 3 SMA Menderita TBC Kelenjar

Dadanya Tumbuh Benjolan Besar, Khawatir Tak Bisa Ikut Unas

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

22 Maret 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

HARU: Beberapa guru SMAN 1 Dander dan Wakil Ketua DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto melihat kondisi Mila sekaligus memberikan motivasi.

HARU: Beberapa guru SMAN 1 Dander dan Wakil Ketua DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto melihat kondisi Mila sekaligus memberikan motivasi. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

SEPERCIK semangat itu masih terpancar dari mata Nurmilasari. Meski dirinya terserang penyakit TBC dan timbul benjolan besar di dadanya, ia masih ingin terus berjuang. Ia ingin tetap bisa mengikuti ujian nasional (unas).

Seorang siswi kelas 3 SMA tergolek lemas mendapat perawatan medis. Siswa yang sebentar lagi menjalani ujian nasional berbasis komputer (UNBK) itu dengan kondisi dada tumbuh benjolan sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Nurmilasari dirawat di ruang Melati 2 Dander Medical Center (DMC). Dia tidur terbaring lemas di rumah sakit tersebut dengan dijaga neneknya.

Numilasari sangat irit bicara. Sang nenek, Lamirah, ikut membantu menjawabnya. Perempuan akrab disapa Mila itu hanya bercerita kalau badannya lemas dan kerap demam. Lalu, beberapa kali benjolan di dadanya itu mengeluarkan darah ketika dia batuk.

Ia mengatakan, kalau mulai rawat inap di DMC sejak Rabu (20/3) lalu. Mila, menambahkan kalau dipakai bicara tidak sakit. Tetapi, benjolan di dadanya itu sangat keras. Kadang nyeri di leher dan punggung.

Ia hanya ingin sembuh dari penyakitnya. Karena usianya juga masih muda dan ingin mandiri bekerja di masa akan datang. Mila hanya hidup dengan neneknya. Orang tuanya sudah cerai dan kurang perhatian. “Iya, hanya tinggal sama nenek,” tuturnya.

Ia menuturkan, bahwa sudah menempuh pengobatan sejak dua tahun lalu. Awalnya di RSUD dr R. Sosodoro Djatikoesoemo ketika ada benjolan-benjolan kecil di dadanya. Kemudian, dianjurkan jalani operasi. Namun, setelah operasi, ternyata benjolan itu muncul kembali dan terus tumbuh secara berkala dan makin membesar.

Akhirnya, dicoba periksa ke RS dr Soetomo dan RSAL Surabaya. Hasil diagnosanya terserang TBC kelenjar. “Sudah tiga kali periksa ke Surabaya. Tapi divonis TBC,” jelas siswi kelas 3 SMAN 1 Dander itu.

Sementara, Lamirah menjelaskan kalau gejala awal dialami cucunya itu batuk dan demam tiap malam. Sedangkan, siangnya, Mila tidak ada keluhan. Benjolan-benjolan itu muncul dan lama kelamaan kian membesar.

Ia sangat berharap cucunya lekas normal dan bisa mengikuti ujian nasional awal bulan. “Mila dan saya sangat berharap kondisi normal dulu, biar bisa ikut ujian. Kasihan sudah lama sekolah, masak tidak ikut ujian,” kata nenek tinggal di Desa Sumberarum, Kecamatan Dander itu.

Di sela mengobrol dengan Mila dan neneknya, salah satu pimpinan DMC Sukur Priyanto ingin melihat kondisi Mila. Tak lama kemudian, sekitar enam guru SMAN 1 Dander juga datang membesuk. Sukur Priyanto juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Bojonegoro mengaku ikut prihatin dengan kondisi Mila.

Ia ingin nantinya ada orang-orang baik yang ingin membantu Mila. Karena kondisi keluarga Mila yang juga tidak utuh. “Kita harus cari solusinya bersama-sama. Saya pun sudah berusaha berkomunikasi dengan Bu Ninik (Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro) untuk mencarikan solusi bagi Mila,” tuturnya.

Ia menaruh harapan besar kepada orang-orang di luar sana ingin mencarikan solusi bagi kesehatan Mila. Karena usia Mila masih sangat muda. Mila masih punya perjalanan panjang. Jangan sampai sakit dialami perempuan berkulit sawo matang itu memupuskan impian-impiannya.

“Teman-teman saya sudah saya berikan kabar terkait kondisi Mila, semoga lebih banyak lagi yang membantu biaya penyembuhan Mila,” ungkapnya.

Sementara itu, Ardin Mutia, wali kelas Mila di SMAN 1 Dander juga ingin pekan depan bisa mengikuti UNBK. Dia mengatakan, para guru juga khawatir dengan kondisi kesehatan Mila. Bahkan, pihak sekolah ikut mengantar Mila dua kali saat berobat ke Surabaya.

Guru-guru Mila juga terus memberikan motivasi kepadanya. Sesekali, air mata menetes dari matanya. Meski menangis, sorot matanya masih tersirat semangat melawan penyakit yang dideritanya.

“Kekhawatiran para guru apabila kelak Mila sudah lulus dari SMAN 1 Dander, siapa lagi yang merawatnya dan memperhatikannya? Tapi kami yakin Mila pasti kuat dan bisa sembuh,” jelansya dengan mata sayu.

(bj/gas/rij/aam/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia