Minggu, 17 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Simulasi Pengamanan Pemilu

Anggota KPU Diculik, Jinakkan Bom Waktu

22 Maret 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DOBRAK: Sejumlah massa ketika melawan barisan kepolisian. Aksi ini hanya simulasi pengamanan Pemilu 2019.

DOBRAK: Sejumlah massa ketika melawan barisan kepolisian. Aksi ini hanya simulasi pengamanan Pemilu 2019. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Hiruk pikuk massa Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mengakibatkan ada beberapa oknum pelaku hendak mengganggu jalannya pesta demokrasi. Tak disangka, ketika masa-masa penghitungan suara, salah satu anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Bojonegoro “diculik” oleh empat orang tidak dikenal.

Sehingga, jajaran Polres Bojonegoro lakukan penyelidikan dan diwarnai aksi pengejaran terhadap para pelaku. Tapi, akhirnya para penculik berhasil dilumpuhkan dan anggota KPU tersebut selamat.

Setelah hasil penghitungan selesai, ternyata ada gerombolan massa pendukung dari salah satu partai tidak terima. Sehingga, terjadi bentrok dengan aparat kepolisian. Massa melempari polisi dengan botol. Namun, massa bisa diredam setelah disemprotkan water canon dan gas air mata.

Meski, terlihat sudah aman, ternyata ada salah satu warga mengetahui kotak kardus mencurigakan ditaruh di salah satu bangunan. Ditakutkan kardus itu bom, akhirnya Tim Penjinak Bom (Jibom) Brimob Detasemen B Polda Jawa Timur (Jatim) datang memeriksa dan mengevakuasi. Ternyata benar, bom tersebut jenis bom waktu. Bom meledak setelah dievakuasi dan dimasukkan ke dalang tong khusus berbahan baja.

Cerita heroik di atas merupakan simulasi sistem pengamanan kota (sispamkota) Pemilu 2019. Polres Bojonegoro bersama jajaran TNI, satpol PP, dan dinas terkait lainnya melatih diri untuk kemungkinan terburuk bisa terjadi saat proses Pemilu 2019. Sehingga tahu tugas dan tanggung jawabnya  masing-masing.

“Latihan ini untuk mewujudkan aman dan tenteram seluruh masyarakat. Setidaknya kami mengetahui berbagai ancaman setiap tahapan pemilu pada nantinya,” tuturnya,

Simulasi ini melibatkan 800 personel dari berbagai unsur Polri, TNI, satpol PP, dinas kesehatan, dan dinas pemadam kebakaran.

Disinggung terkait daerah yang rawan konflik? Kapolres mengatakan tidak ada yang menonjol. Namun, kerawanannya lebih cenderung pada sisi geografis wilayahnya. “Titik-titik rawan hasil mapping, untuk kerawanan secara konflik sosial tidak ada. Yang ada kerawanan dari segi geografi, beberapa wilayah sulit dijangkau. Kami antisipasi pendistribusian logistik harus dipersiapkan,” ucapnya.

(bj/gas/rij/aam/cho/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia