Jumat, 24 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Kental dengan Kebudayaan Mataraman

Oleh: DWI SETIAWAN

20 Maret 2019, 21: 23: 51 WIB | editor : Amin Fauzie

SENIMAN MUDA: Grup karawitan Krido Siwi menunjukkan kebolehannya menabuh gamelan di pendapa sanggar Ngripto Raras, Sabtu (16/3).

SENIMAN MUDA: Grup karawitan Krido Siwi menunjukkan kebolehannya menabuh gamelan di pendapa sanggar Ngripto Raras, Sabtu (16/3). (DWI SETIAWAN/ JAWA POS RADAR TUBAN)

DESA Sukorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jatim memiliki keanekaragaman khazanah seni tradisi berbasis kebudayaan Jawa dan Islam kuno yang sulit ditemui di daerah lain. Di desa ini terjadi transfer of skill and knowledge tradisi dan budaya. Proses tersebut berjalan alami dan menyatu dalam norma adat yang tetap terjaga kelestariannya.

NGURI-URI BUDAYA: Seniman sepuh dan muda bareng-bareng membaca mocopat diiringi gender di pendapa sanggar Ngripto Raras, Sabtu (16/3).

NGURI-URI BUDAYA: Seniman sepuh dan muda bareng-bareng membaca mocopat diiringi gender di pendapa sanggar Ngripto Raras, Sabtu (16/3). (DWI SETIAWAN/ JAWA POS RADAR TUBAN)

Memasuki Desa Sukorejo seolah berada di perkampungan tlatah Kasultanan Mataram Islam di masa lampau. Suasana itu terasa dari kondisi sebagian besar rumah yang masih mempertahankan arsitektur Mataraman dengan atap limasan dan doro kepek serta beruang tamu yang luas.

Tak hanya bangunan lama, bangunan-bangunan baru, seperti kantor desa dan puskesmas pun mengikuti arsitektur yang sama. Entah, apa yang menjadikan desa yang berjarak sekitar 52 km dari pusat kota pemerintahan Tuban itu kental dengan kebudayaan Mataraman. Padahal, desa ini cukup jauh dari Jogjakarta, pusat pemerintahan Mataram.

Sabtu (16/3) petang, Jawa Pos Radar Tuban menyusuri desa yang diapit alas Dawetan di sisi utara dan alas Birklampok di selatannya itu. Kedatangan wartawan koran ini di Sukorejo pada Sabtu malam itu untuk mengenal lebih dekat dengan desa yang pada 7 November 2017 dicanangkan sebagai desa wisata berbasis budaya oleh Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Tuban. Akhir pekan dipilih karena menjadi hari krida bagi pegiat seni.

Benar, selepas salat Magrib, sekitar 75 anak seusia PAUD, SMA, hingga remaja berseragam kaus sanggar kumpul di pendapa rumah Eko Hardoyo, 51. Pria yang lebih dikenal dengan nama Eko Kasmo ini adalah pimpinan sanggar seni Ngripto Raras sekaligus salah satu pelopor seni tradisi di desa setempat.

Sabtu malam itu, mereka berkumpul untuk merayakan ulang tahun sanggarnya. Di pendapa berukuran 12x12 meter (m) dan menempati bagian depan rumah inilah mereka menampilkan kemampuannya. Mulai menari, karawitan, hingga mocopat.

Sebagian besar mereka dari Sukorejo. Selebihnya dari desa sekitar dan desa-desa di kabupaten tetangga, Bojonegoro. Pendapa sanggar Ngripto Raras adalah pusat kegiatan seni tradisi di Sukorejo.

Dijadikannya pendapa sebagai pusat kegiatan tidak lepas dari sosok keluarga pemilik rumah.

Rusdiono, ayah Eko Kasmo adalah ‘’empunya'' seni di Sukorejo. Pria 71 tahun ini adalah dalang wayang kulit kawakan yang di usia uzurnya masih menerima murid untuk nyantri menjadi dalang. Rusdiono yang membagi tugas kepada anak dan cucunya untuk menghidupkan kebudayaan leluhur di desa setempat.

Eko Kasmo, putra sulungnya yang mengikuti jejaknya sebagai dalang wayang kulit lebih banyak berkiprah pada seni karawitan, campursari, mocopat, tongklek, dan teater. Kemampuan Eko dalam menguasai seni tradisi sangat kompleks. Selain mendapat transfer ilmu dan pengetahuan dari orang tua dan kakeknya, dia memperdalam ilmu seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan lulus pada 1995.

Begitu juga putra bungsu Eko Kasmo, bernama Galuh Haryanti Manunggalingtyas. Dia yang kuliah di ISI, setiap pekan mengagendakan pulang kampung hanya untuk melatih tari.

Ketiga pekerja seni ini menjadikan pendapa rumah keluarga sebagai tempat gladi. Karena itulah di rumah ini berbagai peralatan seni tradisional hingga kontemporer menumpuk. Begitu juga peranti pentas.

Trah seni tradisional keluarga Rusdiono di Sukorejo begitu kuat dan mengakar. Ali Rispan, 69, adiknya adalah dalang wayang krucil dan wayang tengul yang juga membuka pawiyatan untuk dalang muda di rumahnya.

Rispan mengatakan, darah seninya mengalir dari sang ayah, almarhum Marbini yang juga dalang. Kakeknya Legiman juga dalang. ''Menurut cerita tutur leluhur, buyut kami diperistri adipati Blora hingga melahirkan anak-anak yang seniman dan dituntut memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan,'' kata dia.

Transfer keterampilan dan pengetahuan dari keluarga Rusdiono, lahir seniman-seniman tradisional yang hebat. Grup karawitan Yoga Laras SDN Sukorejo 1 Parengan yang diampu, misalnya. Grup ini pernah mendapat kehormatan untuk tampil di Istana Negara pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan RI pada 2017. Grup karawitan ini sampai sekarang masih bertahan. Seluruh personelnya yang kini bersekolah di SMPN 2 Parengan masih berkarya dan tergabung dalam grup karawitan Krido Siwi. Pada 4 April mendatang, grup ini tampil pada Cipta Karya Seni di Jatim bersama grup pengrawit penerusnya di SDN Sukorejo 1.

Di desa wisata berbasis budaya ini, hanya Luswoyo, Sukarno, dan Woto, ketiga guru panjak dor dan terbang bancaan yang bukan trah Rusdiono. Namun, semangat mereka untuk nguri-uri kebudayaan leluhur tak kalah kuat. Semangat para pegiat seni ini mendapat dukungan kuat dari masyarakat setempat dan sejumlah daerah di sekitar. Terbukti, mereka beramai-ramai mengikutkan anak-anaknya latihan seni tradisi di Sukorejo. Setiap pementasan, mereka menyemut mengelilingi arena pertunjukan. Kepedulian mereka juga cukup tinggi. Terbukti, ketika sanggar Ngripto Raras berulang tahun, mereka bahu-membahu menyokong kebutuhan ulang tahun, termasuk konsumsi.

Begitu beragamnya khazanah seni tradisi berbasis kebudayaan Jawa dan Islam kuno di Sukorejo, Kabid Pariwisata Disparbudpora Tuban Suwanto memberikan penghargaan sebagai desa laboratorium budaya berbasis masyarakat. ''Saya menyebutnya laboratorium karena di sini ada kompleksitas seni dan tradisi yang masih lestari,'' kata dia.

Apa kaitan kehidupan seni tradisi di desa ini dengan pengaruh Mataraman? Sampai kini belum ada satu pun referensi yang mengupas benang merah tersebut. Suwanto hanya memerkirakan, benang merah tersebut terkait sejarah  Kesultanan Mataram Islam yang pernah menyatukan Jawa, termasuk Madura pada abad XVII.

Dikatakan dia, dalam tradisi masyarakat Jawa, kesenian dikaitkan dengan gending, tembang, gemelan, beksan, dan bela diri. ''Di desa inilah, seni tradisi dari zaman kesultanan tersebut tumbuh dan terpelihara hingga sekarang,'' kata dia.  

Eko Kasmo menuturkan, seni tradisi di Sukorejo adalah salah satu napas kehidupan. Bahkan, tradisi leluhur yang berkaitan dengan seluruh sendi kehidupan pun masih terpelihara dan terjaga dari gerusan modernisasi. Mulai rangkaian upacara untuk anak (mitoni hingga tedak siten) hingga

miwiti tandur (memulai tanam), serta miwiti panen. Bahkan, ritual budaya yang digabung dengan seni tradisional pun digelar setiap peringatan sura dan peringatan kemerdekaan.

Setelah ditahbiskan sebagai desa wisata berbasis budaya dan terbentuknya kelompok sadar wisata (pokdarwis), kata dia, Sukorejo memiliki agenda tambahan yang diagendakan rutin. Yakni, Festival Seni Sukorejo. Festival ini kali pertama digelar selama empat hari mulai 30 September 2019.

Mahfut Wawan, salah satu tokoh masyarakat desa setempat mengatakan, pencanangan Sukorejo sebagai desa wisata berbasis budaya tidak didukung infrastruktur dan konsep yang jelas.

Terbukti, tidak ada satu pun brand gapura atau bangunan fisik lainnya yang memperkuat simbolisasi desa wisata.

Setelah dicanangkan sebagai desa wisata, kata dia, tidak jelas konsep menjual Sukorejo ke depan. ''Tanpa konsep, Sukorejo tidak ubahnya seperti dulu,'' ujar pria yang juga penasihat sanggar seni Ngripto Raras.

Terkait konsep desa wisata Sukorejo ke depan, Kepala Disparsenibud Tuban Sulistyadi mengatakan, dinasnya sudah merencanakan pembuatan gapura masuk bercirikhaskan desa wisata budaya. Dia berharap usulan kegiatan tersebut diakomodir.

Untuk pengembangan Sukorejo, Didit, panggilan akrabnya berencana menggelar seminar pengembangan desa wisata yang bekerja sama dengan bappeda setempat, Pusat Pengembangan Pariwisata UGM, dan stakeholder wisata. Dalam diskusi inilah, kata dia, akan disusun strategi marketing paket wisata desa.

Didit berharap juga ada progres bagi semua pihak untuk menjadikan Tuban sebagai destinasi wisata yang layak. Peran seni sebagai atraksi wisata, kata dia, dapat membuat kegiatan berwisata mendapatkan pengalaman dan wawasan baru disamping hiburan.

(bj/ds/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia