Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Angin Barat Datang Lagi, Kapal Nelayan Ngandang Kembali

19 Maret 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

KHAWATIR ANGIN BARAT: Perahu – perahu milik nelayan di Kecamatan Paciran disandarkan karena khawatir adanya ombak tinggi.

KHAWATIR ANGIN BARAT: Perahu – perahu milik nelayan di Kecamatan Paciran disandarkan karena khawatir adanya ombak tinggi. (M. GAMAL AYATOLLAH/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

PACIRAN – Identitas semua penumpang kapal nelayan Dua Kembar Gt 7 yang hilang akhirnya diketahui. Dua anak buah kapal (ABK) terakhir  bernama Nur Hadi, 37, dan Wardhi, 40, keduanya berasal dari Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran.

Identitas ABK itu berdasarkan laporan dari keluarganya. ‘’Keluarganya sudah melaporkan bahwa dua orang yang belum ditemukan namanya sejak kemarin adalah keluarganya,’’ kata Polairud Polres Lamongan, Iptu Winardi Senin (18/3).

Dia menjelaskan, hingga saat ini masih melakukan pencarian kapal nelayan yang hilang kontak tersebut. Basarnas Surabaya juga diajak koordinasi untuk membantu melakukan pencarian.

‘’Semoga saja secepatnya bisa dilakukan penemuan satu kapal itu,’’ harapnya.

Menurut dia, saat ini cuaca di laut tak mendukung. Terjadi angin barat sehingga pencarian di laut mengalami kendala.

Seperti diberitakan, kapal nelayan Dua Kembar Gt 7 tidak terdeteksi posisinya. Kapal yang ditumpangi tiga ABK dan satu nakhoda itu sudah dua minggu lebih tak menyandar.

‘’Ada satu kapal yang hilang kontak sejak dua minggu yang lalu. Hingga saat ini belum diketahui keberadaannya,’’ kataKetua Nelayan Blimbing, Paciran, Nur Wakid.

Dia menjelaskan, pihaknya hanya mengetahui nakhoda kapal itu M Nursalam, 30, dan Sahdikun, 40, sebagai ABK. Keduanya berasal dari Kelurahan Blimbing.

‘’Untuk dua orang ABK, hingga saat ini belum diketahui namanya dengan detail,’’ tuturnya.

Dia mengaku sudah menyebarkan informasi tersebut. Keluarga nelayan yang merasa kehilangan suami atau saudaranya diminta melapor.

Wakid menjelaskan, biasanya kapal bercat kuning tersebut tujuan melautnya di utara Madura, perairan Sumenep. Menurut dia, Tim SAR Surabaya dan sekitarnya sudah melakukan pencarian. Namun, belum menemukan tanda – tanda adanya kapal tersebut.

Wakid menambahkan, kapal tersebut berangkat (2/3) dinihari dari pelabuhan di Paciran. Biasanya, paling lama enam hari kapal tersebut sudah kembali menepi. ‘’Sampai saat ini juga belum kembali, padahal sudah dua minggu lebih,’’ ujarnya.

Dia menuturkan, saat kapal itu berangkat, cuaca masih tidak menentu. Bahkan, kondisi angin kencang dan ada ombak. Beberapa kapal lainnya memilih menunggu cuaca normal.

‘’Saya hanya berharap semua tidak terjadi apa – apa, nakhoda maupun ABK kapal bisa pulang selamat,’’ harapnya.

Menurut dia, dua minggu lalu juga ada kapal terkena angin besar hingga terguling. Namun, dua orang selamat setelah menumpang di atas kapal yang terbalik. Keduanya diselamatkan kapal temannya saat memancing.

Saat dikonfirmasi lagi kemarin, Wakid menjelaskan, saat ini datang lagi angin barat. Kondisi itu di luar dugaan. Sebab, angin barat seharusnya sudah lewat dan laut normal.

Karena adanya angin barat tersebut, kapal 10 gt ke bawah tidak lagi melaut. ‘’Sejak empat hari lalu,’’ ujarnya.

(bj/mal/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia