Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Tenaga Perawat Masih Kurang

18 Maret 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ilustrasi

ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Meski banyak berdiri perguruan tinggi perawat, ternyata belum mampu mencukupi kebutuhan perawat. Sebab, tenaga perawat di Bojonegoro masih kurang.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sukir mengatakan, rerata kebutuhan perawat di puskemas hanya 2 sampai 5 perawat saja.

Padahal, dalam praktiknya, seharusnya puskesmas memiliki paling tidak 20 orang perawat. Apalagi sekarang puskesmas bisa rawat inap.

“Tentunya tenaga 2 atau 3 orang tadi tidak cukup,” katanya.

Lanjut Sukir, perawat se-Kabupaten Bojonegoro yang sudah menjadi anggota PPNI mencapai 1000 perawat.

“Untuk di RS Aisyiah saja ada sekitar 200 perawat,” ucapnya.

Berdasar data dinas kesehatan (dinkes), rekapitulasi sumber daya manusia kesehatan (SDMK) keperawatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang tercatat di Bojonegoro ada 1.090 perawat.

Dengan rincian, 569 jumlah perawat laki-laki dan 521 perawat perempuan.

“Itu sudah terhimpun seluruh data dari puskesmas, rumah sakit dan klinik di seluruh Kabupaten Bojonegoro,” jelasnya.

Sementara untuk program pondok kesehatan desa (ponkesdes) mencanangkan satu perawat dan satu bidan di desa. Dari 430 desa di Kabupaten Bojonegoro, 193 desa di antaranya sudah terdapat perawat. Ponkesdes sebelumnya ada 197 desa.

“Namun empat di antaranya keluar,” terang Sukir.

Sukir menjelaskan, progres perawat sesuai dengan UUD Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan. Lanjutnya, dapat mendorong perawat agar bisa mengabdikan diri secara profesional. Baik di kepemerintahan dan di masyarakat. Itu perlu kompetensi pendidikan baik informal maupun secara formal, ucapnya.

Pendidikan informal berupa seminar dan workshop. Sedangkan pendidikan formal melalui perguruan tinggi keperawatan. Hal itu berdasarkan UUD Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan.

Lanjutnya, tenaga perawat memang banyak dibutuhkan di mana-mana. Karena mulai dari konsepsi pembuahan sampai meninggal ada bagian perawat.

“Karena perawat melayani baik dari segi biologi, psikologi, sosial, maupun spiritual,” tambahnya

Kepada Bidang (Kabid) Sumber Daya Manusia (SDM) Dinkes Kabupaten Bojonegoro Suharto menambahkan, memang sebanyak 247 desa yang tersebar di Kabupaten Bojonegoro hanya terdapat pondok persalinan desa (polindes).

“Jadi memang lebih banyak bidan yang disalurkan ke desa daripada perawat. Untuk di polindes memang khusus bidan saja,” tuturnya.

Suharto menyetujui, perawat di Kabupaten Bojonegoro memang masih minim. Baik dari segi kompetensi pendidikan maupun profesional.

“Untuk itu perlu meningkatkan SDM keperawatan yang bisa dicapai melalui pendidikan. Standar SDM keperawatan minimal D-3. Saat ini juga sudah ada jenjang profesor dan S-3 untuk keperawatan,” katanya.

(bj/cs /aam/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia