Jumat, 15 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Target Produksi Garam Dinaikkan 7 Ribu Ton

15 Maret 2019, 10: 40: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TARGET NAIK: Areal tambak garam di Kecamatan Brondong menjadi sentra produksi garam Lamongan. Tahun ini target produksi dinaikkan 7 Ribu ton.

TARGET NAIK: Areal tambak garam di Kecamatan Brondong menjadi sentra produksi garam Lamongan. Tahun ini target produksi dinaikkan 7 Ribu ton. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN – Target produksi garam Lamongan naik sekitar 7.000 ton. Tahun lalu 22.800 ton, kini 29.000 ton. ‘’Kenaikan target produksi garam tersebut sesuai realisasi tahun lalu,’’ kata Kabid Pengawasan dan Pengelolaan Pesisir Dinas Perikanan Lamongan, Basuki, Kamis (14/3).

Dia mengungkapkan, tahun lalu produksi garam Lamongan ditarget 22.800 ton. Ternyata realisasinya 29.000 ton. Sehingga tahun ini targetnya disamakan dengan realisasi tahun lalu, yakni 29.000 Ton. ‘’Tentu saja realisasinya diharapkan melebihi dari target tersebut. Minimal sesuai target,’’ tukasnya. 

Menurut dia, untuk merealisasikan target itu, pihaknya sudah menyiapkan 12 unit rumah prisma, untuk bisa memproduksi garam sepanjang musim. Sebelumnya, sudah disediakan 11 unit rumah prisma. ‘’Ada 23 kelompok petani garam yang memanfaatkan rumah prisma tersebut,’’ ujarnya.

Basuki menjelaskan, pengadaan sarana prasarana (sarpras) untuk petani garam dilakukan bertahap. Menyesuaikan kemampuan anggaran daerah. Tapi karena produksi tahun lalu naik signifikan, maka pemerintah berusaha mencukupi kebutuhan petani. “Kita upayakan semaksimal mungkin meski mekanismenya bertahap,” katanya.

Menurut dia, petani garam tahun lalu diuntungkan dengan kemarau panjang. Sehingga produksinya bisa naik signifikan. Bahkan, harga di pasar juga diklaim cenderung stabil, Rp 900 per kilogram (kg). Petani tidak merasa dirugikan meski produksi tinggi. Apalagi bagi petani yang bisa menjalin kerjasama dengan industri. Produksi garamnya bisa dibeli lebih mahal dari lainnya. ‘’Sebab produksi garam Lamongan lebih baik dibandingkan lainnya,’’ tukasnya.

Karena itu, Basuki mengklaim, produksi tinggi tidak berpengaruh pada harga. Karena garam konsumsi secara nasional masih kurang sekitar 500 Ribu ton. Sementara garam impor tidak layak untuk dikonsumsi karena kandungannya berbeda. “Petani tidak perlu khawatir dan terus meningkatkan produksi,” terangnya.

(bj/rka/feb/yan/jar/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia