Minggu, 26 May 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Blora

Bupati Mengaku Tak Miliki Wewenang

13 Maret 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

KECEWA: Warga Wonorejo yang kembali pulang setelah seharian menunggu bupati.

KECEWA: Warga Wonorejo yang kembali pulang setelah seharian menunggu bupati. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/JAWA POS RADAR BLORA)

CEPU - Bupati Blora Djoko Nugroho merespons atas aksi yang digelar warga di Kecamatan Cepu terkait sertifikat tanah.

Dengan penetapan tanah yang berada di tiga kelurahan di Cepu saat ini menjadi hak pakai Pemkab Blora adalah aset negara, bupati mengaku tidak memiliki wewenang untuk bisa menjadikan tanah itu sertifikat hak milik (SHM) masyarakat.

“Itu di luar kewenangan saya. Yang jelas itu aset negara yang dulu aset Perhutani,” ujar bupati kemarin (12/3) saat ditemui di kawasan Kedungpupur, Ledok, Kecamatan Sambong.

Dalam perkara ini, menurut bupati, sebenarnya pihaknya bukan membiarkan begitu saja. Sebab sekitar 4 tahun lalu pihaknya sudah memfasilitasi warga untuk sampai ke Departemen Dalam Negeri perihal permasalahan tidak bisanya tanah di lingkungan Wonorejo dan sekitarnya itu untuk di SHM-kan. “Jawabannya tidak bisa,” tegasnya.

Alasannya, menurut Kokok, sapaannya, karena memang undang-undangnya seperti tidak bisa. Bahwa aset negara tidak bisa dialihkan kepada pihak lain seperti swasta dan perseorangam.

Hanya saja secara pribadi, menurut bupati yang masa jabatannya akan habis pada 2021 ini, ingin gampang-gampang saja bisa diberikan kepada masyarakat karena itu adalah tanah temuan.

Saat disinggung apakah ada upaya dari Pemkab Blora untuk menjadikan tanah yang sudah menjadi aset pemkab itu menjadi milik masyarakat Wonorejo dan sekitarnya.

“Pengin saya juga seperti itu (bisa di SHM-kan, Red), moga-moga suara mereka bisa didengar di sana, agar saya dipanggil langsung oleh presiden lalu bisa saya bisa sampaikan langsung persoalannya,” jelasnya.

Pihaknya mengaku mendukung tuntutan warga. Bahkan jika nanti sampai melakukan aksi ke Jakarta akan didukung.

Terpisah, di lingkungan Wonorejo, kemarin (12/3) warga berkumpul di masjid Pondok Pesantren Al Muhammad Cepu. Mereka menunggu kedatangan bupati. Sebab, mereka menerima informasi bahwa bupati akan menemui warga.

Tapi bupati yang ditunggu-tunggu sejak pukul 09.00 hingga 12.00 tidak kunjung datang. Karena itu warga merasa kecewa atas sikap bupati. Mereka menganggap bupati tidak ada iktikad baik bertemu warga. Dan akhirnya para warga harus kembali pulang.

(bj/fud/aam/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia