Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Melihat Keseruan Fun Cupping Aneka Kopi

Pelajar Mencicipi, Ada yang Rasa Nangka, Durian, hingga Rujak

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

12 Maret 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

KOPI NUSANTARA: Sebanyak 11 peserta fun cupping didominasi pelajar SMP dan SMA mencicipi minuman kopi tanpa gula.

KOPI NUSANTARA: Sebanyak 11 peserta fun cupping didominasi pelajar SMP dan SMA mencicipi minuman kopi tanpa gula. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

SIAPA bilang kopi tanpa gula itu semuanya pahit? Mungkin rerata kurang memiliki wawasan seputar kopi tumbuh di nusantara. Meskipun setiap hari mengonsumsi kopi dua sampai tiga cangkir sehari. Pegiat kopi dari Komunitas Penyeduh Kopi Bojonegoro pun berbagi wawasan terkait kopi-kopi tumbuh di dataran Indonesia.

Indonesia merupakan penghasil kopi terbesar nomor empat di dunia. Posisi pertama diduduki Brasil, disusul Vietnam, dan Kolombia. Pun kopi asli Indonesia memiliki ciri khas rasa tak hanya pahit, tetapi juga tingkat keasaman beragam. Karena sebagian besar tanaman kopi di Indonesia dilindungi tanaman penaung buah-buahan.

Fun cupping digelar di kedai kopi WK Sabtu (9/3) itu dengan 11 peserta. Namun terasa begitu hangat karena yang datang dilandasi ketertarikan dan keingintahuan seputar kopi.

Ari Sujatmiko, salah satu pegiat kopi juga anggota Komunitas Penyeduh Kopi Bojonegoro mengatakan, sebagai warga Indonesia bisa makin mencintai negaranya melalui kopi. Sebab, kopi sejak dulu merupakan salah satu aset terbaik Indonesia. Jadi, tidak bisa dianggap sepele begitu saja. Banyak yang bisa digali dan dipelajari seputar dunia kopi.

Keseruan fun cupping tercipta karena peserta yang datang di luar dugaan. Selain mereka masih awam dengan kopi, sebagian besar masih pelajar SMP atau SMA. Jadi, saat ini kopi tidak selalu identik dengan orang tua. Anak-anak muda zaman sekarang juga suka menikmati kopi. Menurutnya, jumlah warung kopi yang menjamur jadi salah satu alasan tersebut.

Saat acara, bapak satu anak itu mengungkapkan bahwa istilah cupping sebenarnya digunakan para professional, yakni quality grader kopi. Namun, karena ingin mengajak orang awam belajar bersama seputar kopi, akhirnya acaranya dinamakan fun cupping. Sementara, cupping kopi itu sendiri merupakan proses pencicipan di dalam lidah.

“Jadi setiap peserta akan merasakan karakteristik-karakteristik dasar dari kopi seperti acidity (karakter asam), sweetness (karakter manis), bitterness (karakter pahit), dan lain sebagainya,” tuturnya.

Ari dan kawan-kawannya telah menyediakan sekitar enam biji kopi. Di antaranya kopi hamerang bogor, gayo bener meriah, tambakwatu arjuno, robusta bondowoso, bali ulian, dan puntang. Sebelum diseduh, para peserta diminta menilai karakteristik kopi dengan indra penciuman. Kemudian, peserta disuruh menuliskan apa aroma yang dicium di setiap biji kopi yang disajikan.

“Setelah mencium aroma, biji-biji kopi diseduh dan dicicipi bersama, kemudian di meja juga disedikan kertas roda rasa Indonesia sebagai panduan mendeskripsikan kopi yang telah dicoba tersebut,” tuturnya.

Uniknya, ketika para peserta menyesap satu per satu kopi diseduh tanpa gula, sebagian besar kaget. Raut wajah para peserta seketika berubah. Ada mengernyitkan dahinya karena asam. Ada juga menjulurkan lidahnya karena pahit. Tetapi, dari situ mereka jadi paham bahwa mengetahui karakteristik sebuah kopi, tentu tidak usah diberi gula.

“Karena ketika seduhan kopi bercampur dengan gula, tentu karakteristik kopi akan tidak dominan. Sehingga yang dirasakan hanya manis. Padahal rasa tiap kopi itu sangat kompleks,” ucap dia.

“Ada salah satu peserta menilai salah satu rasa kopi ia cicipi seperti rujak, durian, nangka, dan sebagainya. Itu enggak apa-apa, setidaknya mereka bisa tahu kalau kopi asli Indonesia tak hanya tawarkan rasa pahit saja,” terangnya.

Setelah semua kopi dicoba dan dideskripsikan karakteristiknya, ternyata ada salah satu kopi paling disukai peserta. Yakni kopi gayo bener meriah. Alasannya karena dari segi rasa, gayo bener meriah menawarkan rasa mirip seperti anggur. Jadi cukup asam rasanya.

“Kami cukup senang melihat antusias para peserta, meski tak banyak yang bertanya, karena mereka sangat awam. Jadi lebih banyak mendengarkan dan ikut merasakan sensasi fun cupping,” ucapnya.

Beberapa peserta ingin ke depannya Komunitas Penyeduh Kopi kembali menggelar acara seputar kopi lagi. Namun, lebih mengarah pelatihan menyeduh atau manual brewing. Selain itu, ada juga ide mendiskusikan bersama masa depan kedai kopi dengan manual brewing di wilayah Bojonegoro.

(bj/gas/rij/aam/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia