Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Banjir Semakin Meluas 

11 Maret 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TIDAK TAKUT BANJIR: Anak – anak memanfaatkan air yang menggenangi jalan desa untuk berenang dengan menggunakan ban.

TIDAK TAKUT BANJIR: Anak – anak memanfaatkan air yang menggenangi jalan desa untuk berenang dengan menggunakan ban. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN – Air Bengawan Solo mulai surut Minggu (10/3). Indikasinya, ketinggian air pada papan duga berangsur turun. Papan duga Babat yang menunjukkan angka 8,23 peilschaal Sabtu (9/3), Minggu 7,91 peilschaal. 

Papan duga Laren juga turun menjadi 5,58 peilschaal, dari sebelumnya 5,7 peilschaal. “Statusnya masih siaga merah, sebab air kiriman dari wilayah Karangnongko dan Bojonegoro masih tinggi,” ujar Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan,Muslimin. 

Jika intensitas hujan masih tinggi, maka Muslimin memastikan Lamongan tidak aman. Alasannya, kondisi tanggul sudah kritis. Bahkan ada tanggul yang jebol. Akibatnya, air bengawan menuju jalan desa dan pemukiman warga. 

Berdasarkan data BPBD Lamongan, jumlah rumah kebanjiran akibat luapan Bengawan Solo hingga kemarin mencapai 679 rumah. Jumlahnya itu meningkat karena Sabtu hanya 481 rumah. 

Wilayah Kecamatan Babat yang sebelumnya hanya 26 rumah kebanjiran, maka kemarin (10/3) jumlahnya 224 rumah. Warga yang terdampak paling banyak di Kelurahan Babat. 

Sementara di Kecamatan Laren ada 373 rumah yang kebanjiran. Di Glagah 28 rumah dan Karanggeneng 54 rumah. Sementara di Kecamatan Maduran, air bengawan terendam jalan yang ada.

Camat Laren, Naim, mengatakan, meski kondisi Bengawan Solo berangsur turun, ada 373 rumah di sembilan desa yang kebanjiran. 

Menurut dia, banjir disebabkan tanggul wedok jebol sekitar 500 meter (m). Pendangkalan tanggul itu berakibat 156 KK direlokasi ketika debit Bengawan Solo naik. Sebab, rumah mereka langsung tenggelam. Selain pemukiman, sekitar 36 hektare sawah ikut terdampak dengan rerata usia padi 2-3 minggu. 

Bupati Lamongan, Fadeli, menjelaskan, kondisi saat ini belum terkonsep dengan baik. Menurut dia, banjir sudah menjadi siklus tahunan, sehingga warga sudah bisa mengantisipasi. Hanya permasalahan tahun ini mungkin lebih parah dibandingkan sebelumnya. 

Fadeli memastikan akan menyelesaikan permasalahan tanggul jebol tersebut. Karena tidak mungkin mendapatkan bantuan pembangunan dari pusat, maka daerah dan desa harus bersinergi untuk membuat tanggul wedok. “Intinya kalau tidak bisa dibuatkan sementara, langsung dibangunkan yang permanen,” katanya. 

Fadeli menambahkan, selain perbaikan tanggul, pompa di bendungan Plangwot akan diperluas.

(bj/jar/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia