Kamis, 27 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Timur Tengah Mudah, Pasar Lokal Sulit

Cerita Perajin Tenun yang Pertahankan Produksi Manual

Oleh: RIKA RATMAWATI

09 Maret 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MANUAL: Pekerja memintal untuk pengerjaan tenun di Kecamatan Maduran.

MANUAL: Pekerja memintal untuk pengerjaan tenun di Kecamatan Maduran. (RIKA RATMAWATI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

Demi memertahankan warisan budaya, Miftahul Khoiri, bersama warga sekitar tetap menenun secara manual. Pasar lokal ternyata masih sulit untuk ditembus.

Gempuran produk-produk pabrik tak mengecilkan niat Miftahul Khoiri untuk menembus pasar lokal. Perajin tenun asal Kecamatan Maduran tersebut semula hanya seorang buruh tenun yang ikut seorang juragan di Desa Parengan. Juragan tersebut mendapatkan modal dari pengusaha Timur Tengah.

Karena keuletannya, ilmu yang diterima selama menjadi karyawan bisa menjadi modal untuk mengembangkan usahanya. Dengan memiliki satu gulung benang yang dibelinya Rp 36 ribu, dia bisa menghasilkan setengah tenun. Alat yang digunakan, barang bekas. Alat – alat yang sudah rusak milik para juragan, dibenahinya dan dimanfaatkan lagi. Tenunan setengah jadi itu pun dibiarkan dulu.

Dia harus mencari uang untuk membeli satu gulung lagi agar tenunan itu bisa utuh. Miftah tetap bekerja di rumah tenun milik juragannya.

“Di rumah juga buat, di sela-sela bekerja sebagai karyawan tenun,” ujar ayah tiga anak tersebut.

Satu setengah bulan kemudian, Miftah berhasil menyelesaikan tenunannya secara utuh. Satu tenun yang sudah jadi itu lalu dipotong – potong menjadi 20 lembar. Saat itu harga per lembar Rp 45 ribu. Uang hasil penjualannya dibelikan benang untuk mengembangkan usaha tenunnya.

Dari memulai usaha bermodal Rp 36 ribu itu, kini Miftah memiliki 50 pekerja. Dia melepas pekerjaan ganda dengan serius usaha sendiri sejak sekitar tiga tahun lalu.

Pemasaran yang berkembang membuat dia mudah mendapatkan biaya untuk modal. “Kalau dulu belum berani pinjam modal, karena produksi sudah lumayan akhirnya berkembang dan mendapatkan modal besar,” tutur perajin tenun yang mengawali karir sejak 1990 tersebut.

Budaya tenun di Parengan sudah ada sejak 1950. Dia merupakan generasi kesekian yang mempertahankan budaya leluhur.

Saat ini, harga tenun mencapai Rp 125 ribu hingga Rp 750 ribu per potong. Segmen pasar tenun di Parengan lebih banyak luar negeri. Sebagian besar pengrajin besar justru bermitra dengan investor Timur Tengah dan Somalia. Pasar lokal dijajaki juga. Namun, tidak mudah. “Memang lebih sulit karena gempuran produk pabrik,” jelas Miftah.

Miftah bangga dengan tenun yang dikerjakan secara manual, tidak bisa menggunakan mesin. Meskipun, pewarna masih menggunakan pewarna sintesis. Menurut dia, jika mengandalkan pohon, maka nanti merusak.

Saat ini, dia masih berusaha mengembangkan pasar lokal supaya bangga dengan produk Indonesia. Apalagi produknya sangat menjunjung tinggi nilai kearifan lokal. 

(bj/rka/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia