Jumat, 15 Nov 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Diprediksi Banyak Petani Gagal Panen

09 Maret 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

KASIHAN: Para petani di Bojonegoro harus menerima nasib karena saat ini terkena banjir.

KASIHAN: Para petani di Bojonegoro harus menerima nasib karena saat ini terkena banjir. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro memastikan belum ada laporan terkait gagal panen. Masih menunggu petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) akan melaporkan sawah gagal panen akibat banjir luapan Sungai Bengawan Solo.

Data disperta, banjir saat ini menggenangi 773,5 hektare area persawahan padi di 33 desa dari 10 kecamatan. Data tersebut masih belum dilakukan asesmen terkait jumlah luas lahan yang mengalami gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Disperta Bojonegoro Zaenal Fanani, sejauh ini belum ada laporan yang masuk dari PPL terkait gagal panen. Laporan akan masuk apabila hasil asesmen petugas PPL diketahui ada lahan yang gagal panen 75 persen.

“Ketika petani lapor ke petugas kami, tentu akan dicek dulu kondisi sawahnya. Kalau sudah 75 persen, baru dilaporkan. Kalau memang ikut asuransi, tentu bisa mengajukan klaim asuransi sebesar Rp 6 juta per hektare,” jelasnya.

Namun, per tahun ini hanya 22.642,16 hektare yang diikutkan asuransi. Itu pun bukan kesadaran petani, tapi disperta kerja sama dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Beras (Perpadi). Semua premi dengan luas tersebut ditanggung oleh Perpadi, Rp 36 ribu per hektare. Jadi, ada kemungkinan sawah yang terdampak tahun ini belum diikutkan asuransi usaha tani padi (AUTP).

“Total luas tanam di Bojonegoro mencapai 84 ribu hektare. Sedangkan yang ikut hanya 22 ribu hektare. Tiap tahun angkanya juga fluktuatif. Padahal tahun lalu mencapari 35 ribu hektare,” katanya.

Disinggung ada bantuan bagi petani terdampak banjir? Dia mengatakan, ada bantuan berupa benih dari cadangan benih nasional (CDB). Jadi, apabila memang ada terdampak banjir, bisa melaporkan ke petugas terkait permintaan benih.

Ia mengatakan tahun lalu permintaan benih mencapai 200 ton untuk 8.000 hektare. “Perkiraan per hektare-nya diberi bantuan benih sebanyak 25 kilogram,” katanya.

Pihaknya memprediksi luas area persawahan terdampak saat ini tidak lebih parah dengan tahun lalu. Berdasarkan datanya, dampak banjir tahun lalu menggenangi 4.372 hektare dan 985 hektare mengalami gagal panen.

“Berharap banyak tahun ini tidak lebih parah dibanding tahun lalu,” jelasnya.

(bj/gas/rij/aam/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia