Minggu, 17 Nov 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban

Siaga Merah Tuban, Bergantung Bendung Gerak

Banjir Parengan Berangsur Normal

08 Maret 2019, 16: 50: 36 WIB | editor : Amin Fauzie

BANJIR: Luapan air Sungai Bengawan Solo dipotret dari ketinggian.

BANJIR: Luapan air Sungai Bengawan Solo dipotret dari ketinggian. (CANGGIH PUTRANTO/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TUBAN - Status sungai Bengawan Solo di wilayah Tuban kemarin (7/3) petang memasuki siaga merah. Berdasarkan hasil pemantauan tinggi muka air (TMA) di papan duga Babat sekitar pukul 18.00, tinggi air melampaui batas maksimal siaga merah 8,15 peilschaal.

Kendati demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban memastikan belum ada desa yang terisolir akibat luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.

Menurut pantauan Jawa Pos Radar Tuban kemarin, tercatat 6 desa pada 4  kecamatan yang terendam.

Di wilayah Kecamatan Rengel, bah merendam Desa Karangtinoto, Tambakrejo, dan Ngadirejo. Di Kecamatan Plumpang, satu-satunya desa yang tergenang hanyalah Kebomlati. Sementara di Kecamatan Soko hanya merendam Desa Glagasari dan di Kecamatan Widang hanya menyentuh Desa Widang.

Kondisi terparah di Dusun Tomerto, Desa Karangtinoto. Di dusun ini, ketinggian air mencapai paha orang dewasa atau sekitar 40 sentimeter (cm). Saking tingginya, belasan motor yang memaksa melintas di jalan poros desa setempat, mesinnya kemasukan air dan mogok.

Di dusun yang menjadi langganan banjir ini, belum satu pun rumah yang terendam. Itu karena hampir semua bangunan rumah memiliki pondasi yang tinggi. ‘’Kami sudah mengantisipasinya (dengan meninggikan pondasi rumah, Red),’’ ujar Eni, salah satu warga setempat.

Sementara di Tambakrejo, Ngadirejo, Glagasari, Kebomlati, dan Widang, ketinggian air hanya sedikit di atas mata kaki.

Kepala Pelaksana BPBD Tuban Joko Ludiyono ketika dikonfirmasi tadi malam mengatakan, sejumlah jalan poros desa mulai banyak yang tergenang, namun belum terisolir. Pemukiman warga juga masih aman.

Disinggung terkait kemungkinan meningkatnya debit air yang masuk ke kawasan pemukiman warga, Joko belum bisa menyampaikan secara pasti. Sebab, segala kemungkinan bisa terjadi seiring dengan hujan yang terus mengguyur. ‘’Bisa cepat surut, bisa juga malah bertambah tinggi. Tergantung intensitas hujan lokal dan kiriman air dari wilayah hulu,’’ kata dia.

Bagaimana kondisi wilayah hulu? Joko menyampaikan, sampai saat ini intensitas hujan di wilayah hulu juga masih terus mengguyur. Hal tersebut juga tergantung dari sistem penahan air di Bendung Gerak Bojonegoro. Artinya, jika sistem buka-tutup di Bendung Gerak bisa diatur secara optimal, maka ritme laju air dari wilayah hulu ke hilir juga bisa diatur dengan maksimal. ‘’Jadi, tergantung sistem buka-tutup di Bendung Gerak,’’ katanya.

Masih dikatakan Joko, sebagai langkah antisipasi, segala keperluan bantuan telah disiapkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Termasuk mendirikan posko pengungsian di wilayah Kecamatan Rengel. ‘’Saat kondisi darurat kita sudah siap. Dan tim akan selalu stand by,’’ tandasnya.

Sementara itu, kondisi banjir di wilayah Kecamatan Parengan berangsur normal. Sejumlah warga yang sempat mengungsi karena rumahnya terendam banjir, kini telah kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Sebelumnya, bah akibat luapan dari sungai Kali Kening itu menerjang sepuluh desa. Yakni, Sembung, Kemlaten, Kumpulrejo, Cengkong, Brangkal, Margorejo, Suciharjo, Selogabus, Parangbatu, dan Margoasri.

Desa yang disebutkan terahir sempat dinyatakan terisolir karena hampir sebagian besar rumah warga terendam. Namun, kemarin kondisinya mulai surut.

(bj/tok/rza/ds/yan/can/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia